<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
	<id>https://wiki.isikhnas.com/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Hendrayatna</id>
	<title>Wiki Sumber Informasi iSIKHNAS - User contributions [en]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wiki.isikhnas.com/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Hendrayatna"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/w/Special:Contributions/Hendrayatna"/>
	<updated>2026-09-17T15:18:21Z</updated>
	<subtitle>User contributions</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.31.16</generator>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Techniques_that_maximise_learning/id&amp;diff=18236</id>
		<title>Techniques that maximise learning/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Techniques_that_maximise_learning/id&amp;diff=18236"/>
		<updated>2014-09-23T09:33:14Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Salah satu bidang riset menunjukkan adanya perbedaan besar dalam cara berbagai orang mempelajari sesuatu. Misalnya, sebagian orang akan berusaha mencari garis besarnya atau me...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==11.	Teknik memaksimalkan pembelajaran==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Pembelajaran melibatkan segenap pikiran dan raga (beserta jiwa) &lt;br /&gt;
*Pembelajaran adalah kreasi, bukan konsumsi &lt;br /&gt;
*Kolaborasi membantu pembelajaran &lt;br /&gt;
*Pembelajaran terjadi secara bersamaan pada berbagai tataran &lt;br /&gt;
*Pembelajarn muncul dari melakukan pekerjaan itu sendiri (dengan disertai umpan balik) &lt;br /&gt;
*Emosi positif sangat meningkatkan pembelajaran &lt;br /&gt;
*Otak jauh lebih mudah dan cepat menyerap informasi visual. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Beri motivasi===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Motivasi sangatlah penting, terutama pada saat awal pelatihan. Orang dewasa perlu mengetahui bagaimana pelatihan tersebut akan bermanfaat bagi mereka. Jika mereka tidak mengetahuinya, mereka tidak akan belajar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guna memotivasi peserta, fasilitator perlu mengambil setiap kesempatan untuk: &lt;br /&gt;
*Menjalin kedekatan &lt;br /&gt;
*Menciptakan suasana pelatihan yang terbuka dan bersahabat &lt;br /&gt;
*Menjaga agar tingkat stres tetap rendah &lt;br /&gt;
*Memberi tantangan bagi para peserta, tetapi tidak sampai membuat mereka frustrasi&lt;br /&gt;
*Memastikan bahwa peserta dapat menghubungkan materi dengan pekerjaan dan kehidupan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajar dapat belajar secara efektif dan mandiri jika mereka tertarik pada hal yang sedang mereka pelajari. Namun, kebanyakan pelajaran di ruang kelas sering dianggap tidak menarik, dan ini menjadikan proses pembelajaran lebih sulit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tantangan berat bagi pelatih adalah menjadikan pembelajaran lebih menarik, bermakna, dan aktif. Sesungguhnya, inilah tujuan utama pelatihan ''Train the Trainer'' dan merupakan salah satu aspek sulit dalam perancangan pelatihan yang baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Perkokoh===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepanjang pelatihan, instruktur perlu mendorong dan memperkokoh. Instruktur harus memberi ganjaran bagi perilaku baik – sekecil apa pun itu – secara positif dan sering. Ganjaran tersebut tidak harus berbentuk fisik. Cukup ucapkan “bagus” atau “terima kasih untuk masukannya” sudah sangat berarti bagi pembelajar dewasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Ulangi===&lt;br /&gt;
Pengulangan merupakan salah satu dasar pembelajaran. Orang-orang perlu mendengarkan suatu hal hingga tiga kali sebelum mempelajarinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya mengapa proses untuk mengajarkan suatu keterampilan adalah dengan: &lt;br /&gt;
1.	membangkitkan minat (Persiapan) &lt;br /&gt;
2.	menjelaskan atau memperlihatkannya (Presentasi) &lt;br /&gt;
3.	meminta pembelajar melakukannya (Latihan) &lt;br /&gt;
4.	meminta pembelajar melakukannya dalam keadaan nyata (Kinerja) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Gunakan semua indra===&lt;br /&gt;
Semakin banyak kombinasi indra kita yang terstimulasi dalam pembelajaran, semakin besar peluang keberhasilan pembelajaran. Sebagai contoh, diperkirakan bahwa kita mempelajari: &lt;br /&gt;
*10% dari hal yang kita baca &lt;br /&gt;
*20% dari hal yang kita dengar &lt;br /&gt;
*30% dari hal yang kita lihat &lt;br /&gt;
*40% dari hal yang kita lihat dan dengar &lt;br /&gt;
*50% dari hal yang kita diskusikan &lt;br /&gt;
*70% dari hal yang kita alami &lt;br /&gt;
*90% dari hal yang kita ajarkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pahami kurva pembelajaran===&lt;br /&gt;
Pembelajaran adalah proses yang berlangsung terus-menerus, tetapi kecepatannya bisa berbeda-beda. Sebagai contoh, ketika Anda baru mulai mempelajari hal baru, kemajuannya sering kali sangat lambat untuk beberapa lama, kemudian Anda tiba-tiba merasa mempelajari banyak dalam waktu yang jauh lebih cepat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, kecepatan pembelajaran ini sering akan menurun lagi dan Anda merasa hanya mengalami sedikit kemajuan, meskipun berusaha sama keras seperti sebelumnya. Pada saat ini, Anda sedang mengkonsolidasikan hal-hal yang telah dipelajari, tetapi periode ini sering kali sangat membuat frustrasi. Umumnya diperlukan upaya terus-menerus untuk menciptakan lonjakan pembelajaran yang baru. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bantulah pelajar untuk memahami bahwa lonjakan dan penurunan kecepatan pembelajaran merupakan hal biasa dan jika tetap tekun, mereka akan kembali merasakan kemajuan. Ini akan membantu mereka mempertahankan keyakinan dan motivasi saat mengalami penurunan kecepatan pembelajaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan salah gunakan rentang perhatian===&lt;br /&gt;
Perhatian berperan sangat penting dalam pembelajaran. Tanpa perhatian yang baik, pembelajaran kemungkinan hanya terjadi sebagian dan tidak efektif. Tentu saja, kemampuan kita untuk mempertahankan perhatian akan lebih besar jika kita termotivasi. Sebuah skenario pengajaran yang sering terjadi adalah ketika instruktur terus bicara dan bicara. Hal ini menyebabkan perhatian kita cenderung menurun dengan cepat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Implikasinya bagi pengajaran sangat penting. Jelaslah bahwa instruktur yang berbicara panjang lebar, tanpa memberi kesempatan bagi pelajar untuk berpartisipasi, kemungkinan merupakan metode pengajaran yang tidak efektif. Kesalahan ini sering dilakukan oleh instruktur yang mengira bahwa semakin banyak input yang mereka berikan, akan semakin banyak pembelajaran yang terjadi. Ini jelas tidak betul. Pengalaman Anda sendiri sebagai pelajar sudah membuktikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hindari presentasi panjang. Selingi presentasi panjang dengan kegiatan singkat seperti meminta peserta untuk merangkum poin terpenting yang mereka dengar, atau bertanya apakah mereka bisa menebak hal yang akan dibahas selanjutnya, atau meminta mereka secara berpasangan untuk menyampaikan pertanyaan yang ingin didapat jawabannya dari presentasi selanjutnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Dorong penggunaan ingatan secara efektif===&lt;br /&gt;
'''Cara kerja ingatan'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan sistem ingatan kita sebagai sistem dengan dua komponen yang saling terkait: &lt;br /&gt;
1.	Sistem ingatan jangka pendek (STM), yang hanya bisa menangani kira-kira tujuh elemen informasi untuk satu waktu tertentu. &lt;br /&gt;
2.	Sistem ingatan jangka panjang (LTM), yang memiliki kapasitas hampir tak terbatas untuk menyimpan informasi. Sistem inilah yang menyimpan semua informasi yang bisa kita ingat kembali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Transfer informasi secara efektif dari STM ke LTM sangat penting untuk akuisisi pengetahuan. Guna mencapai transfer ini, informasi haruslah masuk akal bagi pembelajar (bermakna); dalam potongan yang sesuai (sekitar tujuh elemen); terorganisasi; dan cukup sering dilatih (diulangi beberapa kali sampai dapat diingat dengan mudah). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Bagaimana &amp;quot;lupa&amp;quot; terjadi'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah teori tentang terjadinya lupa. Yang paling penting bagi kita sebagai instruktur adalah bahwa lebih dari 60% informasi faktual akan hilang dalam waktu 48 jam jika hal yang dipelajari itu tidak diulangi atau dipelajari kembali. Keterampilan dan pemahaman jauh lebih sulit dilupakan. Misalnya, begitu sudah belajar berenang, Anda kemungkinan akan sulit lupa cara berenang, meskipun tidak berenang lagi hingga bertahun-tahun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semakin banyak informasi yang dipelajari kembali sehari setelah 'diperoleh', semakin besar peluang informasi tersebut untuk tersimpan dalam ingatan jangka panjang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Implikasi untuk pengajaran dan pembelajaran'''&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Sebaiknya ingatkan pelajar tentang prinsip-prinsip dasar cara kerja ingatan. Ini akan menghindarkan mereka dari kesalahan yang biasa terjadi, yaitu berusaha menghafal terlalu banyak dalam waktu yang terlalu singkat. Dari sudut panjang pengajaran, kita harus menyadari bahwa jika kita berbicara terlalu lama, informasi yang akhirnya akan masuk ingatan kemungkinan hanya sedikit. Jadi, kita perlu menjaga agar informasi terorganisasi dengan baik dan memberi waktu bagi pelajar untuk mencerna materi, baik melalui sesi tanya jawab atau kegiatan tindak lanjut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kiat membantu orang mengingat materi'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Pertahankan perhatian para peserta, terutama saat Anda menyampaikan poin penting&lt;br /&gt;
*Siapkan orang sebelum Anda memberikan informasi dengan mengajukan pertanyaan yang memancing pemikiran, sehingga mereka sudah siaga menerima materi bersangkutan sebelum mendengarkan materi yang spesifik&lt;br /&gt;
*Ajukan pertanyaan selama pelatihan yang mendorong peserta untuk mengingat kembali materi, merangkumnya, dan memperlihatkan materi dengan berbagai cara.  Berikan kuis singkat.&lt;br /&gt;
*Gunakan studi kasus untuk membantu peserta menerapkan informasi dengan cara yang berbeda-beda&lt;br /&gt;
*Gunakan pengulangan dan penguatan dengan meminta orang untuk misalnya, menyampaikan kembali, mendiskusikan, atau membuat grafik.&lt;br /&gt;
*Tanyakan poin apa yang paling penting (satu poin per peserta)&lt;br /&gt;
*Perpanjang diskusi agar peserta dapat menyadari sendiri poin pentingnya, alih-alih diberi tahu.&lt;br /&gt;
*Perlihatkan kesamaan atau kaitan dengan aspek atau topik lain yang relevan.&lt;br /&gt;
*Gunakan berbagai cara untuk memperlihatkan atau menarik informasi&lt;br /&gt;
*Variasikan materi dan alat pengajaran&lt;br /&gt;
*Pastikan orang merasa rileks dan mendapatkan jeda yang cukup&lt;br /&gt;
*Rangkumkan poin utama pada bagian akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Mengakomodasi gaya belajar yang berbeda-beda===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai individu, kita punya cara khas masing-masing dalam memproses informasi, merasakan dan berperilaku dalam situasi belajar. Intinya, ini berarti walaupun kita semua belajar dengan cara memperoleh pengetahuan, berpikir, dan bertindak, kita punya pendekatan dan preferensi yang berbeda-beda mengenai cara kita melakukan kegiatan tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu bidang riset menunjukkan adanya perbedaan besar dalam cara berbagai orang mempelajari sesuatu. Misalnya, sebagian orang akan berusaha mencari garis besarnya atau memahami tugasnya sebelum mulai fokus ke perincian dan kaitan tertentu. Sebagian orang yang lain akan menggunakan pendekatan lebih berurutan, sambil mencari kaitannya secara bertahap dan sistematis, untuk kemudian membangun pemahaman yang menyeluruh pada akhir proses pembelajaran. Para pembelajar yang paling efektif tampaknya mampu menggunakan kedua gaya tersebut secara bersamaan dan secara luwes. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian orang tampak jelas lebih menyukai cara belajar tertentu: &lt;br /&gt;
*penglihatan - melihat gambar, kata-kata, diagram &lt;br /&gt;
*pendengaran - mendengarkan penjelasan &lt;br /&gt;
*sentuhan - langsung melakukan kegiatannya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada implikasi penting dari gaya belajar yang berbeda-beda itu terhadap cara kita mengajar. Perbedaan tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa proses pembelajaran perlu menggunakan berbagai indra dan memberi kesempatan bagi para pembelajar untuk belajar lewat beragam cara. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, instruktur tidak mungkin memenuhi semua preferensi itu setiap saat. Namun, perbedaan cara-cara belajar tersebut mengingatkan kita untuk selalu menggunakan beragam metode pengajaran dan memvariasikan sumber daya pembelajaran bagi para peserta jika mungkin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pastikan masukan yang efektif===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pelatih harus berulang kali memberikan masukan kepada para peserta selama pelatihan. Masukan seperti itu dapat memberi keyakinan dan membimbing para peserta. Di bagian berikutnya dalam pedoman kita akan membicarakan lebih banyak mengenai cara-cara memberikan masukan yang berguna dan juga cara-cara untuk mendapatkan umpan balik atas pelatihan yang Anda berikan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Techniques_that_maximise_learning/30/id&amp;diff=18235</id>
		<title>Translations:Techniques that maximise learning/30/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Techniques_that_maximise_learning/30/id&amp;diff=18235"/>
		<updated>2014-09-23T09:33:13Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Salah satu bidang riset menunjukkan adanya perbedaan besar dalam cara berbagai orang mempelajari sesuatu. Misalnya, sebagian orang akan berusaha mencari garis besarnya atau me...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Salah satu bidang riset menunjukkan adanya perbedaan besar dalam cara berbagai orang mempelajari sesuatu. Misalnya, sebagian orang akan berusaha mencari garis besarnya atau memahami tugasnya sebelum mulai fokus ke perincian dan kaitan tertentu. Sebagian orang yang lain akan menggunakan pendekatan lebih berurutan, sambil mencari kaitannya secara bertahap dan sistematis, untuk kemudian membangun pemahaman yang menyeluruh pada akhir proses pembelajaran. Para pembelajar yang paling efektif tampaknya mampu menggunakan kedua gaya tersebut secara bersamaan dan secara luwes.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Techniques_that_maximise_learning/33/id&amp;diff=18233</id>
		<title>Translations:Techniques that maximise learning/33/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Techniques_that_maximise_learning/33/id&amp;diff=18233"/>
		<updated>2014-09-23T09:27:19Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Tentu saja, instruktur tidak mungkin memenuhi semua preferensi itu setiap saat. Namun, perbedaan cara-cara belajar tersebut mengingatkan kita untuk selalu menggunakan beragam...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Tentu saja, instruktur tidak mungkin memenuhi semua preferensi itu setiap saat. Namun, perbedaan cara-cara belajar tersebut mengingatkan kita untuk selalu menggunakan beragam metode pengajaran dan memvariasikan sumber daya pembelajaran bagi para peserta jika mungkin.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Techniques_that_maximise_learning/id&amp;diff=18234</id>
		<title>Techniques that maximise learning/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Techniques_that_maximise_learning/id&amp;diff=18234"/>
		<updated>2014-09-23T09:27:19Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Tentu saja, instruktur tidak mungkin memenuhi semua preferensi itu setiap saat. Namun, perbedaan cara-cara belajar tersebut mengingatkan kita untuk selalu menggunakan beragam...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==11.	Teknik memaksimalkan pembelajaran==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Pembelajaran melibatkan segenap pikiran dan raga (beserta jiwa) &lt;br /&gt;
*Pembelajaran adalah kreasi, bukan konsumsi &lt;br /&gt;
*Kolaborasi membantu pembelajaran &lt;br /&gt;
*Pembelajaran terjadi secara bersamaan pada berbagai tataran &lt;br /&gt;
*Pembelajarn muncul dari melakukan pekerjaan itu sendiri (dengan disertai umpan balik) &lt;br /&gt;
*Emosi positif sangat meningkatkan pembelajaran &lt;br /&gt;
*Otak jauh lebih mudah dan cepat menyerap informasi visual. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Beri motivasi===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Motivasi sangatlah penting, terutama pada saat awal pelatihan. Orang dewasa perlu mengetahui bagaimana pelatihan tersebut akan bermanfaat bagi mereka. Jika mereka tidak mengetahuinya, mereka tidak akan belajar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guna memotivasi peserta, fasilitator perlu mengambil setiap kesempatan untuk: &lt;br /&gt;
*Menjalin kedekatan &lt;br /&gt;
*Menciptakan suasana pelatihan yang terbuka dan bersahabat &lt;br /&gt;
*Menjaga agar tingkat stres tetap rendah &lt;br /&gt;
*Memberi tantangan bagi para peserta, tetapi tidak sampai membuat mereka frustrasi&lt;br /&gt;
*Memastikan bahwa peserta dapat menghubungkan materi dengan pekerjaan dan kehidupan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajar dapat belajar secara efektif dan mandiri jika mereka tertarik pada hal yang sedang mereka pelajari. Namun, kebanyakan pelajaran di ruang kelas sering dianggap tidak menarik, dan ini menjadikan proses pembelajaran lebih sulit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tantangan berat bagi pelatih adalah menjadikan pembelajaran lebih menarik, bermakna, dan aktif. Sesungguhnya, inilah tujuan utama pelatihan ''Train the Trainer'' dan merupakan salah satu aspek sulit dalam perancangan pelatihan yang baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Perkokoh===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepanjang pelatihan, instruktur perlu mendorong dan memperkokoh. Instruktur harus memberi ganjaran bagi perilaku baik – sekecil apa pun itu – secara positif dan sering. Ganjaran tersebut tidak harus berbentuk fisik. Cukup ucapkan “bagus” atau “terima kasih untuk masukannya” sudah sangat berarti bagi pembelajar dewasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Ulangi===&lt;br /&gt;
Pengulangan merupakan salah satu dasar pembelajaran. Orang-orang perlu mendengarkan suatu hal hingga tiga kali sebelum mempelajarinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya mengapa proses untuk mengajarkan suatu keterampilan adalah dengan: &lt;br /&gt;
1.	membangkitkan minat (Persiapan) &lt;br /&gt;
2.	menjelaskan atau memperlihatkannya (Presentasi) &lt;br /&gt;
3.	meminta pembelajar melakukannya (Latihan) &lt;br /&gt;
4.	meminta pembelajar melakukannya dalam keadaan nyata (Kinerja) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Gunakan semua indra===&lt;br /&gt;
Semakin banyak kombinasi indra kita yang terstimulasi dalam pembelajaran, semakin besar peluang keberhasilan pembelajaran. Sebagai contoh, diperkirakan bahwa kita mempelajari: &lt;br /&gt;
*10% dari hal yang kita baca &lt;br /&gt;
*20% dari hal yang kita dengar &lt;br /&gt;
*30% dari hal yang kita lihat &lt;br /&gt;
*40% dari hal yang kita lihat dan dengar &lt;br /&gt;
*50% dari hal yang kita diskusikan &lt;br /&gt;
*70% dari hal yang kita alami &lt;br /&gt;
*90% dari hal yang kita ajarkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pahami kurva pembelajaran===&lt;br /&gt;
Pembelajaran adalah proses yang berlangsung terus-menerus, tetapi kecepatannya bisa berbeda-beda. Sebagai contoh, ketika Anda baru mulai mempelajari hal baru, kemajuannya sering kali sangat lambat untuk beberapa lama, kemudian Anda tiba-tiba merasa mempelajari banyak dalam waktu yang jauh lebih cepat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, kecepatan pembelajaran ini sering akan menurun lagi dan Anda merasa hanya mengalami sedikit kemajuan, meskipun berusaha sama keras seperti sebelumnya. Pada saat ini, Anda sedang mengkonsolidasikan hal-hal yang telah dipelajari, tetapi periode ini sering kali sangat membuat frustrasi. Umumnya diperlukan upaya terus-menerus untuk menciptakan lonjakan pembelajaran yang baru. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bantulah pelajar untuk memahami bahwa lonjakan dan penurunan kecepatan pembelajaran merupakan hal biasa dan jika tetap tekun, mereka akan kembali merasakan kemajuan. Ini akan membantu mereka mempertahankan keyakinan dan motivasi saat mengalami penurunan kecepatan pembelajaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan salah gunakan rentang perhatian===&lt;br /&gt;
Perhatian berperan sangat penting dalam pembelajaran. Tanpa perhatian yang baik, pembelajaran kemungkinan hanya terjadi sebagian dan tidak efektif. Tentu saja, kemampuan kita untuk mempertahankan perhatian akan lebih besar jika kita termotivasi. Sebuah skenario pengajaran yang sering terjadi adalah ketika instruktur terus bicara dan bicara. Hal ini menyebabkan perhatian kita cenderung menurun dengan cepat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Implikasinya bagi pengajaran sangat penting. Jelaslah bahwa instruktur yang berbicara panjang lebar, tanpa memberi kesempatan bagi pelajar untuk berpartisipasi, kemungkinan merupakan metode pengajaran yang tidak efektif. Kesalahan ini sering dilakukan oleh instruktur yang mengira bahwa semakin banyak input yang mereka berikan, akan semakin banyak pembelajaran yang terjadi. Ini jelas tidak betul. Pengalaman Anda sendiri sebagai pelajar sudah membuktikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hindari presentasi panjang. Selingi presentasi panjang dengan kegiatan singkat seperti meminta peserta untuk merangkum poin terpenting yang mereka dengar, atau bertanya apakah mereka bisa menebak hal yang akan dibahas selanjutnya, atau meminta mereka secara berpasangan untuk menyampaikan pertanyaan yang ingin didapat jawabannya dari presentasi selanjutnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Dorong penggunaan ingatan secara efektif===&lt;br /&gt;
'''Cara kerja ingatan'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan sistem ingatan kita sebagai sistem dengan dua komponen yang saling terkait: &lt;br /&gt;
1.	Sistem ingatan jangka pendek (STM), yang hanya bisa menangani kira-kira tujuh elemen informasi untuk satu waktu tertentu. &lt;br /&gt;
2.	Sistem ingatan jangka panjang (LTM), yang memiliki kapasitas hampir tak terbatas untuk menyimpan informasi. Sistem inilah yang menyimpan semua informasi yang bisa kita ingat kembali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Transfer informasi secara efektif dari STM ke LTM sangat penting untuk akuisisi pengetahuan. Guna mencapai transfer ini, informasi haruslah masuk akal bagi pembelajar (bermakna); dalam potongan yang sesuai (sekitar tujuh elemen); terorganisasi; dan cukup sering dilatih (diulangi beberapa kali sampai dapat diingat dengan mudah). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Bagaimana &amp;quot;lupa&amp;quot; terjadi'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah teori tentang terjadinya lupa. Yang paling penting bagi kita sebagai instruktur adalah bahwa lebih dari 60% informasi faktual akan hilang dalam waktu 48 jam jika hal yang dipelajari itu tidak diulangi atau dipelajari kembali. Keterampilan dan pemahaman jauh lebih sulit dilupakan. Misalnya, begitu sudah belajar berenang, Anda kemungkinan akan sulit lupa cara berenang, meskipun tidak berenang lagi hingga bertahun-tahun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semakin banyak informasi yang dipelajari kembali sehari setelah 'diperoleh', semakin besar peluang informasi tersebut untuk tersimpan dalam ingatan jangka panjang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Implikasi untuk pengajaran dan pembelajaran'''&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Sebaiknya ingatkan pelajar tentang prinsip-prinsip dasar cara kerja ingatan. Ini akan menghindarkan mereka dari kesalahan yang biasa terjadi, yaitu berusaha menghafal terlalu banyak dalam waktu yang terlalu singkat. Dari sudut panjang pengajaran, kita harus menyadari bahwa jika kita berbicara terlalu lama, informasi yang akhirnya akan masuk ingatan kemungkinan hanya sedikit. Jadi, kita perlu menjaga agar informasi terorganisasi dengan baik dan memberi waktu bagi pelajar untuk mencerna materi, baik melalui sesi tanya jawab atau kegiatan tindak lanjut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kiat membantu orang mengingat materi'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Pertahankan perhatian para peserta, terutama saat Anda menyampaikan poin penting&lt;br /&gt;
*Siapkan orang sebelum Anda memberikan informasi dengan mengajukan pertanyaan yang memancing pemikiran, sehingga mereka sudah siaga menerima materi bersangkutan sebelum mendengarkan materi yang spesifik&lt;br /&gt;
*Ajukan pertanyaan selama pelatihan yang mendorong peserta untuk mengingat kembali materi, merangkumnya, dan memperlihatkan materi dengan berbagai cara.  Berikan kuis singkat.&lt;br /&gt;
*Gunakan studi kasus untuk membantu peserta menerapkan informasi dengan cara yang berbeda-beda&lt;br /&gt;
*Gunakan pengulangan dan penguatan dengan meminta orang untuk misalnya, menyampaikan kembali, mendiskusikan, atau membuat grafik.&lt;br /&gt;
*Tanyakan poin apa yang paling penting (satu poin per peserta)&lt;br /&gt;
*Perpanjang diskusi agar peserta dapat menyadari sendiri poin pentingnya, alih-alih diberi tahu.&lt;br /&gt;
*Perlihatkan kesamaan atau kaitan dengan aspek atau topik lain yang relevan.&lt;br /&gt;
*Gunakan berbagai cara untuk memperlihatkan atau menarik informasi&lt;br /&gt;
*Variasikan materi dan alat pengajaran&lt;br /&gt;
*Pastikan orang merasa rileks dan mendapatkan jeda yang cukup&lt;br /&gt;
*Rangkumkan poin utama pada bagian akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Mengakomodasi gaya belajar yang berbeda-beda===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai individu, kita punya cara khas masing-masing dalam memproses informasi, merasakan dan berperilaku dalam situasi belajar. Intinya, ini berarti walaupun kita semua belajar dengan cara memperoleh pengetahuan, berpikir, dan bertindak, kita punya pendekatan dan preferensi yang berbeda-beda mengenai cara kita melakukan kegiatan tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One area of research has shown that there can be significant differences in the ways in which people approach a learning task. For example, some people will try to get an overall picture or understanding of the task before they focus on more specific details and linkages. In contrast, other people will approach the task in a more sequential manner, making linkages gradually and methodically, and only building up to an understanding of the overall task much later in the learning process. The most effective learners seem to be able to adopt both of these styles simultaneously and in a versatile manner. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian orang tampak jelas lebih menyukai cara belajar tertentu: &lt;br /&gt;
*penglihatan - melihat gambar, kata-kata, diagram &lt;br /&gt;
*pendengaran - mendengarkan penjelasan &lt;br /&gt;
*sentuhan - langsung melakukan kegiatannya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada implikasi penting dari gaya belajar yang berbeda-beda itu terhadap cara kita mengajar. Perbedaan tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa proses pembelajaran perlu menggunakan berbagai indra dan memberi kesempatan bagi para pembelajar untuk belajar lewat beragam cara. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, instruktur tidak mungkin memenuhi semua preferensi itu setiap saat. Namun, perbedaan cara-cara belajar tersebut mengingatkan kita untuk selalu menggunakan beragam metode pengajaran dan memvariasikan sumber daya pembelajaran bagi para peserta jika mungkin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pastikan masukan yang efektif===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pelatih harus berulang kali memberikan masukan kepada para peserta selama pelatihan. Masukan seperti itu dapat memberi keyakinan dan membimbing para peserta. Di bagian berikutnya dalam pedoman kita akan membicarakan lebih banyak mengenai cara-cara memberikan masukan yang berguna dan juga cara-cara untuk mendapatkan umpan balik atas pelatihan yang Anda berikan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Techniques_that_maximise_learning/32/id&amp;diff=18231</id>
		<title>Translations:Techniques that maximise learning/32/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Techniques_that_maximise_learning/32/id&amp;diff=18231"/>
		<updated>2014-09-23T09:25:03Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Ada implikasi penting dari gaya belajar yang berbeda-beda itu terhadap cara kita mengajar. Perbedaan tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa proses pembelajaran perlu mengguna...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Ada implikasi penting dari gaya belajar yang berbeda-beda itu terhadap cara kita mengajar. Perbedaan tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa proses pembelajaran perlu menggunakan berbagai indra dan memberi kesempatan bagi para pembelajar untuk belajar lewat beragam cara.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Techniques_that_maximise_learning/id&amp;diff=18232</id>
		<title>Techniques that maximise learning/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Techniques_that_maximise_learning/id&amp;diff=18232"/>
		<updated>2014-09-23T09:25:03Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Ada implikasi penting dari gaya belajar yang berbeda-beda itu terhadap cara kita mengajar. Perbedaan tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa proses pembelajaran perlu mengguna...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==11.	Teknik memaksimalkan pembelajaran==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Pembelajaran melibatkan segenap pikiran dan raga (beserta jiwa) &lt;br /&gt;
*Pembelajaran adalah kreasi, bukan konsumsi &lt;br /&gt;
*Kolaborasi membantu pembelajaran &lt;br /&gt;
*Pembelajaran terjadi secara bersamaan pada berbagai tataran &lt;br /&gt;
*Pembelajarn muncul dari melakukan pekerjaan itu sendiri (dengan disertai umpan balik) &lt;br /&gt;
*Emosi positif sangat meningkatkan pembelajaran &lt;br /&gt;
*Otak jauh lebih mudah dan cepat menyerap informasi visual. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Beri motivasi===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Motivasi sangatlah penting, terutama pada saat awal pelatihan. Orang dewasa perlu mengetahui bagaimana pelatihan tersebut akan bermanfaat bagi mereka. Jika mereka tidak mengetahuinya, mereka tidak akan belajar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guna memotivasi peserta, fasilitator perlu mengambil setiap kesempatan untuk: &lt;br /&gt;
*Menjalin kedekatan &lt;br /&gt;
*Menciptakan suasana pelatihan yang terbuka dan bersahabat &lt;br /&gt;
*Menjaga agar tingkat stres tetap rendah &lt;br /&gt;
*Memberi tantangan bagi para peserta, tetapi tidak sampai membuat mereka frustrasi&lt;br /&gt;
*Memastikan bahwa peserta dapat menghubungkan materi dengan pekerjaan dan kehidupan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajar dapat belajar secara efektif dan mandiri jika mereka tertarik pada hal yang sedang mereka pelajari. Namun, kebanyakan pelajaran di ruang kelas sering dianggap tidak menarik, dan ini menjadikan proses pembelajaran lebih sulit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tantangan berat bagi pelatih adalah menjadikan pembelajaran lebih menarik, bermakna, dan aktif. Sesungguhnya, inilah tujuan utama pelatihan ''Train the Trainer'' dan merupakan salah satu aspek sulit dalam perancangan pelatihan yang baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Perkokoh===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepanjang pelatihan, instruktur perlu mendorong dan memperkokoh. Instruktur harus memberi ganjaran bagi perilaku baik – sekecil apa pun itu – secara positif dan sering. Ganjaran tersebut tidak harus berbentuk fisik. Cukup ucapkan “bagus” atau “terima kasih untuk masukannya” sudah sangat berarti bagi pembelajar dewasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Ulangi===&lt;br /&gt;
Pengulangan merupakan salah satu dasar pembelajaran. Orang-orang perlu mendengarkan suatu hal hingga tiga kali sebelum mempelajarinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya mengapa proses untuk mengajarkan suatu keterampilan adalah dengan: &lt;br /&gt;
1.	membangkitkan minat (Persiapan) &lt;br /&gt;
2.	menjelaskan atau memperlihatkannya (Presentasi) &lt;br /&gt;
3.	meminta pembelajar melakukannya (Latihan) &lt;br /&gt;
4.	meminta pembelajar melakukannya dalam keadaan nyata (Kinerja) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Gunakan semua indra===&lt;br /&gt;
Semakin banyak kombinasi indra kita yang terstimulasi dalam pembelajaran, semakin besar peluang keberhasilan pembelajaran. Sebagai contoh, diperkirakan bahwa kita mempelajari: &lt;br /&gt;
*10% dari hal yang kita baca &lt;br /&gt;
*20% dari hal yang kita dengar &lt;br /&gt;
*30% dari hal yang kita lihat &lt;br /&gt;
*40% dari hal yang kita lihat dan dengar &lt;br /&gt;
*50% dari hal yang kita diskusikan &lt;br /&gt;
*70% dari hal yang kita alami &lt;br /&gt;
*90% dari hal yang kita ajarkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pahami kurva pembelajaran===&lt;br /&gt;
Pembelajaran adalah proses yang berlangsung terus-menerus, tetapi kecepatannya bisa berbeda-beda. Sebagai contoh, ketika Anda baru mulai mempelajari hal baru, kemajuannya sering kali sangat lambat untuk beberapa lama, kemudian Anda tiba-tiba merasa mempelajari banyak dalam waktu yang jauh lebih cepat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, kecepatan pembelajaran ini sering akan menurun lagi dan Anda merasa hanya mengalami sedikit kemajuan, meskipun berusaha sama keras seperti sebelumnya. Pada saat ini, Anda sedang mengkonsolidasikan hal-hal yang telah dipelajari, tetapi periode ini sering kali sangat membuat frustrasi. Umumnya diperlukan upaya terus-menerus untuk menciptakan lonjakan pembelajaran yang baru. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bantulah pelajar untuk memahami bahwa lonjakan dan penurunan kecepatan pembelajaran merupakan hal biasa dan jika tetap tekun, mereka akan kembali merasakan kemajuan. Ini akan membantu mereka mempertahankan keyakinan dan motivasi saat mengalami penurunan kecepatan pembelajaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan salah gunakan rentang perhatian===&lt;br /&gt;
Perhatian berperan sangat penting dalam pembelajaran. Tanpa perhatian yang baik, pembelajaran kemungkinan hanya terjadi sebagian dan tidak efektif. Tentu saja, kemampuan kita untuk mempertahankan perhatian akan lebih besar jika kita termotivasi. Sebuah skenario pengajaran yang sering terjadi adalah ketika instruktur terus bicara dan bicara. Hal ini menyebabkan perhatian kita cenderung menurun dengan cepat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Implikasinya bagi pengajaran sangat penting. Jelaslah bahwa instruktur yang berbicara panjang lebar, tanpa memberi kesempatan bagi pelajar untuk berpartisipasi, kemungkinan merupakan metode pengajaran yang tidak efektif. Kesalahan ini sering dilakukan oleh instruktur yang mengira bahwa semakin banyak input yang mereka berikan, akan semakin banyak pembelajaran yang terjadi. Ini jelas tidak betul. Pengalaman Anda sendiri sebagai pelajar sudah membuktikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hindari presentasi panjang. Selingi presentasi panjang dengan kegiatan singkat seperti meminta peserta untuk merangkum poin terpenting yang mereka dengar, atau bertanya apakah mereka bisa menebak hal yang akan dibahas selanjutnya, atau meminta mereka secara berpasangan untuk menyampaikan pertanyaan yang ingin didapat jawabannya dari presentasi selanjutnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Dorong penggunaan ingatan secara efektif===&lt;br /&gt;
'''Cara kerja ingatan'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan sistem ingatan kita sebagai sistem dengan dua komponen yang saling terkait: &lt;br /&gt;
1.	Sistem ingatan jangka pendek (STM), yang hanya bisa menangani kira-kira tujuh elemen informasi untuk satu waktu tertentu. &lt;br /&gt;
2.	Sistem ingatan jangka panjang (LTM), yang memiliki kapasitas hampir tak terbatas untuk menyimpan informasi. Sistem inilah yang menyimpan semua informasi yang bisa kita ingat kembali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Transfer informasi secara efektif dari STM ke LTM sangat penting untuk akuisisi pengetahuan. Guna mencapai transfer ini, informasi haruslah masuk akal bagi pembelajar (bermakna); dalam potongan yang sesuai (sekitar tujuh elemen); terorganisasi; dan cukup sering dilatih (diulangi beberapa kali sampai dapat diingat dengan mudah). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Bagaimana &amp;quot;lupa&amp;quot; terjadi'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah teori tentang terjadinya lupa. Yang paling penting bagi kita sebagai instruktur adalah bahwa lebih dari 60% informasi faktual akan hilang dalam waktu 48 jam jika hal yang dipelajari itu tidak diulangi atau dipelajari kembali. Keterampilan dan pemahaman jauh lebih sulit dilupakan. Misalnya, begitu sudah belajar berenang, Anda kemungkinan akan sulit lupa cara berenang, meskipun tidak berenang lagi hingga bertahun-tahun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semakin banyak informasi yang dipelajari kembali sehari setelah 'diperoleh', semakin besar peluang informasi tersebut untuk tersimpan dalam ingatan jangka panjang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Implikasi untuk pengajaran dan pembelajaran'''&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Sebaiknya ingatkan pelajar tentang prinsip-prinsip dasar cara kerja ingatan. Ini akan menghindarkan mereka dari kesalahan yang biasa terjadi, yaitu berusaha menghafal terlalu banyak dalam waktu yang terlalu singkat. Dari sudut panjang pengajaran, kita harus menyadari bahwa jika kita berbicara terlalu lama, informasi yang akhirnya akan masuk ingatan kemungkinan hanya sedikit. Jadi, kita perlu menjaga agar informasi terorganisasi dengan baik dan memberi waktu bagi pelajar untuk mencerna materi, baik melalui sesi tanya jawab atau kegiatan tindak lanjut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kiat membantu orang mengingat materi'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Pertahankan perhatian para peserta, terutama saat Anda menyampaikan poin penting&lt;br /&gt;
*Siapkan orang sebelum Anda memberikan informasi dengan mengajukan pertanyaan yang memancing pemikiran, sehingga mereka sudah siaga menerima materi bersangkutan sebelum mendengarkan materi yang spesifik&lt;br /&gt;
*Ajukan pertanyaan selama pelatihan yang mendorong peserta untuk mengingat kembali materi, merangkumnya, dan memperlihatkan materi dengan berbagai cara.  Berikan kuis singkat.&lt;br /&gt;
*Gunakan studi kasus untuk membantu peserta menerapkan informasi dengan cara yang berbeda-beda&lt;br /&gt;
*Gunakan pengulangan dan penguatan dengan meminta orang untuk misalnya, menyampaikan kembali, mendiskusikan, atau membuat grafik.&lt;br /&gt;
*Tanyakan poin apa yang paling penting (satu poin per peserta)&lt;br /&gt;
*Perpanjang diskusi agar peserta dapat menyadari sendiri poin pentingnya, alih-alih diberi tahu.&lt;br /&gt;
*Perlihatkan kesamaan atau kaitan dengan aspek atau topik lain yang relevan.&lt;br /&gt;
*Gunakan berbagai cara untuk memperlihatkan atau menarik informasi&lt;br /&gt;
*Variasikan materi dan alat pengajaran&lt;br /&gt;
*Pastikan orang merasa rileks dan mendapatkan jeda yang cukup&lt;br /&gt;
*Rangkumkan poin utama pada bagian akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Mengakomodasi gaya belajar yang berbeda-beda===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai individu, kita punya cara khas masing-masing dalam memproses informasi, merasakan dan berperilaku dalam situasi belajar. Intinya, ini berarti walaupun kita semua belajar dengan cara memperoleh pengetahuan, berpikir, dan bertindak, kita punya pendekatan dan preferensi yang berbeda-beda mengenai cara kita melakukan kegiatan tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One area of research has shown that there can be significant differences in the ways in which people approach a learning task. For example, some people will try to get an overall picture or understanding of the task before they focus on more specific details and linkages. In contrast, other people will approach the task in a more sequential manner, making linkages gradually and methodically, and only building up to an understanding of the overall task much later in the learning process. The most effective learners seem to be able to adopt both of these styles simultaneously and in a versatile manner. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian orang tampak jelas lebih menyukai cara belajar tertentu: &lt;br /&gt;
*penglihatan - melihat gambar, kata-kata, diagram &lt;br /&gt;
*pendengaran - mendengarkan penjelasan &lt;br /&gt;
*sentuhan - langsung melakukan kegiatannya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada implikasi penting dari gaya belajar yang berbeda-beda itu terhadap cara kita mengajar. Perbedaan tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa proses pembelajaran perlu menggunakan berbagai indra dan memberi kesempatan bagi para pembelajar untuk belajar lewat beragam cara. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Of course, it is not possible for instructors to cater for all preferences all the time. However, it serves as a reminder to use a range of instruction methods and provide a variety of learning sources for students whenever possible. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pastikan masukan yang efektif===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pelatih harus berulang kali memberikan masukan kepada para peserta selama pelatihan. Masukan seperti itu dapat memberi keyakinan dan membimbing para peserta. Di bagian berikutnya dalam pedoman kita akan membicarakan lebih banyak mengenai cara-cara memberikan masukan yang berguna dan juga cara-cara untuk mendapatkan umpan balik atas pelatihan yang Anda berikan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Techniques_that_maximise_learning/31/id&amp;diff=18229</id>
		<title>Translations:Techniques that maximise learning/31/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Techniques_that_maximise_learning/31/id&amp;diff=18229"/>
		<updated>2014-09-23T09:20:42Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Sebagian orang tampak jelas lebih menyukai cara belajar tertentu:  *penglihatan - melihat gambar, kata-kata, diagram  *pendengaran - mendengarkan penjelasan  *sentuhan - langs...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sebagian orang tampak jelas lebih menyukai cara belajar tertentu: &lt;br /&gt;
*penglihatan - melihat gambar, kata-kata, diagram &lt;br /&gt;
*pendengaran - mendengarkan penjelasan &lt;br /&gt;
*sentuhan - langsung melakukan kegiatannya&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Techniques_that_maximise_learning/id&amp;diff=18230</id>
		<title>Techniques that maximise learning/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Techniques_that_maximise_learning/id&amp;diff=18230"/>
		<updated>2014-09-23T09:20:42Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Sebagian orang tampak jelas lebih menyukai cara belajar tertentu:  *penglihatan - melihat gambar, kata-kata, diagram  *pendengaran - mendengarkan penjelasan  *sentuhan - langs...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==11.	Teknik memaksimalkan pembelajaran==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Pembelajaran melibatkan segenap pikiran dan raga (beserta jiwa) &lt;br /&gt;
*Pembelajaran adalah kreasi, bukan konsumsi &lt;br /&gt;
*Kolaborasi membantu pembelajaran &lt;br /&gt;
*Pembelajaran terjadi secara bersamaan pada berbagai tataran &lt;br /&gt;
*Pembelajarn muncul dari melakukan pekerjaan itu sendiri (dengan disertai umpan balik) &lt;br /&gt;
*Emosi positif sangat meningkatkan pembelajaran &lt;br /&gt;
*Otak jauh lebih mudah dan cepat menyerap informasi visual. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Beri motivasi===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Motivasi sangatlah penting, terutama pada saat awal pelatihan. Orang dewasa perlu mengetahui bagaimana pelatihan tersebut akan bermanfaat bagi mereka. Jika mereka tidak mengetahuinya, mereka tidak akan belajar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guna memotivasi peserta, fasilitator perlu mengambil setiap kesempatan untuk: &lt;br /&gt;
*Menjalin kedekatan &lt;br /&gt;
*Menciptakan suasana pelatihan yang terbuka dan bersahabat &lt;br /&gt;
*Menjaga agar tingkat stres tetap rendah &lt;br /&gt;
*Memberi tantangan bagi para peserta, tetapi tidak sampai membuat mereka frustrasi&lt;br /&gt;
*Memastikan bahwa peserta dapat menghubungkan materi dengan pekerjaan dan kehidupan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajar dapat belajar secara efektif dan mandiri jika mereka tertarik pada hal yang sedang mereka pelajari. Namun, kebanyakan pelajaran di ruang kelas sering dianggap tidak menarik, dan ini menjadikan proses pembelajaran lebih sulit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tantangan berat bagi pelatih adalah menjadikan pembelajaran lebih menarik, bermakna, dan aktif. Sesungguhnya, inilah tujuan utama pelatihan ''Train the Trainer'' dan merupakan salah satu aspek sulit dalam perancangan pelatihan yang baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Perkokoh===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepanjang pelatihan, instruktur perlu mendorong dan memperkokoh. Instruktur harus memberi ganjaran bagi perilaku baik – sekecil apa pun itu – secara positif dan sering. Ganjaran tersebut tidak harus berbentuk fisik. Cukup ucapkan “bagus” atau “terima kasih untuk masukannya” sudah sangat berarti bagi pembelajar dewasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Ulangi===&lt;br /&gt;
Pengulangan merupakan salah satu dasar pembelajaran. Orang-orang perlu mendengarkan suatu hal hingga tiga kali sebelum mempelajarinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya mengapa proses untuk mengajarkan suatu keterampilan adalah dengan: &lt;br /&gt;
1.	membangkitkan minat (Persiapan) &lt;br /&gt;
2.	menjelaskan atau memperlihatkannya (Presentasi) &lt;br /&gt;
3.	meminta pembelajar melakukannya (Latihan) &lt;br /&gt;
4.	meminta pembelajar melakukannya dalam keadaan nyata (Kinerja) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Gunakan semua indra===&lt;br /&gt;
Semakin banyak kombinasi indra kita yang terstimulasi dalam pembelajaran, semakin besar peluang keberhasilan pembelajaran. Sebagai contoh, diperkirakan bahwa kita mempelajari: &lt;br /&gt;
*10% dari hal yang kita baca &lt;br /&gt;
*20% dari hal yang kita dengar &lt;br /&gt;
*30% dari hal yang kita lihat &lt;br /&gt;
*40% dari hal yang kita lihat dan dengar &lt;br /&gt;
*50% dari hal yang kita diskusikan &lt;br /&gt;
*70% dari hal yang kita alami &lt;br /&gt;
*90% dari hal yang kita ajarkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pahami kurva pembelajaran===&lt;br /&gt;
Pembelajaran adalah proses yang berlangsung terus-menerus, tetapi kecepatannya bisa berbeda-beda. Sebagai contoh, ketika Anda baru mulai mempelajari hal baru, kemajuannya sering kali sangat lambat untuk beberapa lama, kemudian Anda tiba-tiba merasa mempelajari banyak dalam waktu yang jauh lebih cepat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, kecepatan pembelajaran ini sering akan menurun lagi dan Anda merasa hanya mengalami sedikit kemajuan, meskipun berusaha sama keras seperti sebelumnya. Pada saat ini, Anda sedang mengkonsolidasikan hal-hal yang telah dipelajari, tetapi periode ini sering kali sangat membuat frustrasi. Umumnya diperlukan upaya terus-menerus untuk menciptakan lonjakan pembelajaran yang baru. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bantulah pelajar untuk memahami bahwa lonjakan dan penurunan kecepatan pembelajaran merupakan hal biasa dan jika tetap tekun, mereka akan kembali merasakan kemajuan. Ini akan membantu mereka mempertahankan keyakinan dan motivasi saat mengalami penurunan kecepatan pembelajaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan salah gunakan rentang perhatian===&lt;br /&gt;
Perhatian berperan sangat penting dalam pembelajaran. Tanpa perhatian yang baik, pembelajaran kemungkinan hanya terjadi sebagian dan tidak efektif. Tentu saja, kemampuan kita untuk mempertahankan perhatian akan lebih besar jika kita termotivasi. Sebuah skenario pengajaran yang sering terjadi adalah ketika instruktur terus bicara dan bicara. Hal ini menyebabkan perhatian kita cenderung menurun dengan cepat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Implikasinya bagi pengajaran sangat penting. Jelaslah bahwa instruktur yang berbicara panjang lebar, tanpa memberi kesempatan bagi pelajar untuk berpartisipasi, kemungkinan merupakan metode pengajaran yang tidak efektif. Kesalahan ini sering dilakukan oleh instruktur yang mengira bahwa semakin banyak input yang mereka berikan, akan semakin banyak pembelajaran yang terjadi. Ini jelas tidak betul. Pengalaman Anda sendiri sebagai pelajar sudah membuktikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hindari presentasi panjang. Selingi presentasi panjang dengan kegiatan singkat seperti meminta peserta untuk merangkum poin terpenting yang mereka dengar, atau bertanya apakah mereka bisa menebak hal yang akan dibahas selanjutnya, atau meminta mereka secara berpasangan untuk menyampaikan pertanyaan yang ingin didapat jawabannya dari presentasi selanjutnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Dorong penggunaan ingatan secara efektif===&lt;br /&gt;
'''Cara kerja ingatan'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan sistem ingatan kita sebagai sistem dengan dua komponen yang saling terkait: &lt;br /&gt;
1.	Sistem ingatan jangka pendek (STM), yang hanya bisa menangani kira-kira tujuh elemen informasi untuk satu waktu tertentu. &lt;br /&gt;
2.	Sistem ingatan jangka panjang (LTM), yang memiliki kapasitas hampir tak terbatas untuk menyimpan informasi. Sistem inilah yang menyimpan semua informasi yang bisa kita ingat kembali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Transfer informasi secara efektif dari STM ke LTM sangat penting untuk akuisisi pengetahuan. Guna mencapai transfer ini, informasi haruslah masuk akal bagi pembelajar (bermakna); dalam potongan yang sesuai (sekitar tujuh elemen); terorganisasi; dan cukup sering dilatih (diulangi beberapa kali sampai dapat diingat dengan mudah). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Bagaimana &amp;quot;lupa&amp;quot; terjadi'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah teori tentang terjadinya lupa. Yang paling penting bagi kita sebagai instruktur adalah bahwa lebih dari 60% informasi faktual akan hilang dalam waktu 48 jam jika hal yang dipelajari itu tidak diulangi atau dipelajari kembali. Keterampilan dan pemahaman jauh lebih sulit dilupakan. Misalnya, begitu sudah belajar berenang, Anda kemungkinan akan sulit lupa cara berenang, meskipun tidak berenang lagi hingga bertahun-tahun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semakin banyak informasi yang dipelajari kembali sehari setelah 'diperoleh', semakin besar peluang informasi tersebut untuk tersimpan dalam ingatan jangka panjang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Implikasi untuk pengajaran dan pembelajaran'''&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Sebaiknya ingatkan pelajar tentang prinsip-prinsip dasar cara kerja ingatan. Ini akan menghindarkan mereka dari kesalahan yang biasa terjadi, yaitu berusaha menghafal terlalu banyak dalam waktu yang terlalu singkat. Dari sudut panjang pengajaran, kita harus menyadari bahwa jika kita berbicara terlalu lama, informasi yang akhirnya akan masuk ingatan kemungkinan hanya sedikit. Jadi, kita perlu menjaga agar informasi terorganisasi dengan baik dan memberi waktu bagi pelajar untuk mencerna materi, baik melalui sesi tanya jawab atau kegiatan tindak lanjut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kiat membantu orang mengingat materi'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Pertahankan perhatian para peserta, terutama saat Anda menyampaikan poin penting&lt;br /&gt;
*Siapkan orang sebelum Anda memberikan informasi dengan mengajukan pertanyaan yang memancing pemikiran, sehingga mereka sudah siaga menerima materi bersangkutan sebelum mendengarkan materi yang spesifik&lt;br /&gt;
*Ajukan pertanyaan selama pelatihan yang mendorong peserta untuk mengingat kembali materi, merangkumnya, dan memperlihatkan materi dengan berbagai cara.  Berikan kuis singkat.&lt;br /&gt;
*Gunakan studi kasus untuk membantu peserta menerapkan informasi dengan cara yang berbeda-beda&lt;br /&gt;
*Gunakan pengulangan dan penguatan dengan meminta orang untuk misalnya, menyampaikan kembali, mendiskusikan, atau membuat grafik.&lt;br /&gt;
*Tanyakan poin apa yang paling penting (satu poin per peserta)&lt;br /&gt;
*Perpanjang diskusi agar peserta dapat menyadari sendiri poin pentingnya, alih-alih diberi tahu.&lt;br /&gt;
*Perlihatkan kesamaan atau kaitan dengan aspek atau topik lain yang relevan.&lt;br /&gt;
*Gunakan berbagai cara untuk memperlihatkan atau menarik informasi&lt;br /&gt;
*Variasikan materi dan alat pengajaran&lt;br /&gt;
*Pastikan orang merasa rileks dan mendapatkan jeda yang cukup&lt;br /&gt;
*Rangkumkan poin utama pada bagian akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Mengakomodasi gaya belajar yang berbeda-beda===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai individu, kita punya cara khas masing-masing dalam memproses informasi, merasakan dan berperilaku dalam situasi belajar. Intinya, ini berarti walaupun kita semua belajar dengan cara memperoleh pengetahuan, berpikir, dan bertindak, kita punya pendekatan dan preferensi yang berbeda-beda mengenai cara kita melakukan kegiatan tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One area of research has shown that there can be significant differences in the ways in which people approach a learning task. For example, some people will try to get an overall picture or understanding of the task before they focus on more specific details and linkages. In contrast, other people will approach the task in a more sequential manner, making linkages gradually and methodically, and only building up to an understanding of the overall task much later in the learning process. The most effective learners seem to be able to adopt both of these styles simultaneously and in a versatile manner. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian orang tampak jelas lebih menyukai cara belajar tertentu: &lt;br /&gt;
*penglihatan - melihat gambar, kata-kata, diagram &lt;br /&gt;
*pendengaran - mendengarkan penjelasan &lt;br /&gt;
*sentuhan - langsung melakukan kegiatannya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are important implications in different learning styles for the ways in which we teach. These differences clearly suggest the need for learning to involve the range of senses and provide many different ways in which learners can go about their learning. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Of course, it is not possible for instructors to cater for all preferences all the time. However, it serves as a reminder to use a range of instruction methods and provide a variety of learning sources for students whenever possible. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pastikan masukan yang efektif===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pelatih harus berulang kali memberikan masukan kepada para peserta selama pelatihan. Masukan seperti itu dapat memberi keyakinan dan membimbing para peserta. Di bagian berikutnya dalam pedoman kita akan membicarakan lebih banyak mengenai cara-cara memberikan masukan yang berguna dan juga cara-cara untuk mendapatkan umpan balik atas pelatihan yang Anda berikan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Techniques_that_maximise_learning/id&amp;diff=18228</id>
		<title>Techniques that maximise learning/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Techniques_that_maximise_learning/id&amp;diff=18228"/>
		<updated>2014-09-23T09:17:27Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Seorang pelatih harus berulang kali memberikan masukan kepada para peserta selama pelatihan. Masukan seperti itu dapat memberi keyakinan dan membimbing para peserta. Di bagian...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==11.	Teknik memaksimalkan pembelajaran==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Pembelajaran melibatkan segenap pikiran dan raga (beserta jiwa) &lt;br /&gt;
*Pembelajaran adalah kreasi, bukan konsumsi &lt;br /&gt;
*Kolaborasi membantu pembelajaran &lt;br /&gt;
*Pembelajaran terjadi secara bersamaan pada berbagai tataran &lt;br /&gt;
*Pembelajarn muncul dari melakukan pekerjaan itu sendiri (dengan disertai umpan balik) &lt;br /&gt;
*Emosi positif sangat meningkatkan pembelajaran &lt;br /&gt;
*Otak jauh lebih mudah dan cepat menyerap informasi visual. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Beri motivasi===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Motivasi sangatlah penting, terutama pada saat awal pelatihan. Orang dewasa perlu mengetahui bagaimana pelatihan tersebut akan bermanfaat bagi mereka. Jika mereka tidak mengetahuinya, mereka tidak akan belajar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guna memotivasi peserta, fasilitator perlu mengambil setiap kesempatan untuk: &lt;br /&gt;
*Menjalin kedekatan &lt;br /&gt;
*Menciptakan suasana pelatihan yang terbuka dan bersahabat &lt;br /&gt;
*Menjaga agar tingkat stres tetap rendah &lt;br /&gt;
*Memberi tantangan bagi para peserta, tetapi tidak sampai membuat mereka frustrasi&lt;br /&gt;
*Memastikan bahwa peserta dapat menghubungkan materi dengan pekerjaan dan kehidupan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajar dapat belajar secara efektif dan mandiri jika mereka tertarik pada hal yang sedang mereka pelajari. Namun, kebanyakan pelajaran di ruang kelas sering dianggap tidak menarik, dan ini menjadikan proses pembelajaran lebih sulit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tantangan berat bagi pelatih adalah menjadikan pembelajaran lebih menarik, bermakna, dan aktif. Sesungguhnya, inilah tujuan utama pelatihan ''Train the Trainer'' dan merupakan salah satu aspek sulit dalam perancangan pelatihan yang baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Perkokoh===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepanjang pelatihan, instruktur perlu mendorong dan memperkokoh. Instruktur harus memberi ganjaran bagi perilaku baik – sekecil apa pun itu – secara positif dan sering. Ganjaran tersebut tidak harus berbentuk fisik. Cukup ucapkan “bagus” atau “terima kasih untuk masukannya” sudah sangat berarti bagi pembelajar dewasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Ulangi===&lt;br /&gt;
Pengulangan merupakan salah satu dasar pembelajaran. Orang-orang perlu mendengarkan suatu hal hingga tiga kali sebelum mempelajarinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya mengapa proses untuk mengajarkan suatu keterampilan adalah dengan: &lt;br /&gt;
1.	membangkitkan minat (Persiapan) &lt;br /&gt;
2.	menjelaskan atau memperlihatkannya (Presentasi) &lt;br /&gt;
3.	meminta pembelajar melakukannya (Latihan) &lt;br /&gt;
4.	meminta pembelajar melakukannya dalam keadaan nyata (Kinerja) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Gunakan semua indra===&lt;br /&gt;
Semakin banyak kombinasi indra kita yang terstimulasi dalam pembelajaran, semakin besar peluang keberhasilan pembelajaran. Sebagai contoh, diperkirakan bahwa kita mempelajari: &lt;br /&gt;
*10% dari hal yang kita baca &lt;br /&gt;
*20% dari hal yang kita dengar &lt;br /&gt;
*30% dari hal yang kita lihat &lt;br /&gt;
*40% dari hal yang kita lihat dan dengar &lt;br /&gt;
*50% dari hal yang kita diskusikan &lt;br /&gt;
*70% dari hal yang kita alami &lt;br /&gt;
*90% dari hal yang kita ajarkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pahami kurva pembelajaran===&lt;br /&gt;
Pembelajaran adalah proses yang berlangsung terus-menerus, tetapi kecepatannya bisa berbeda-beda. Sebagai contoh, ketika Anda baru mulai mempelajari hal baru, kemajuannya sering kali sangat lambat untuk beberapa lama, kemudian Anda tiba-tiba merasa mempelajari banyak dalam waktu yang jauh lebih cepat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, kecepatan pembelajaran ini sering akan menurun lagi dan Anda merasa hanya mengalami sedikit kemajuan, meskipun berusaha sama keras seperti sebelumnya. Pada saat ini, Anda sedang mengkonsolidasikan hal-hal yang telah dipelajari, tetapi periode ini sering kali sangat membuat frustrasi. Umumnya diperlukan upaya terus-menerus untuk menciptakan lonjakan pembelajaran yang baru. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bantulah pelajar untuk memahami bahwa lonjakan dan penurunan kecepatan pembelajaran merupakan hal biasa dan jika tetap tekun, mereka akan kembali merasakan kemajuan. Ini akan membantu mereka mempertahankan keyakinan dan motivasi saat mengalami penurunan kecepatan pembelajaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan salah gunakan rentang perhatian===&lt;br /&gt;
Perhatian berperan sangat penting dalam pembelajaran. Tanpa perhatian yang baik, pembelajaran kemungkinan hanya terjadi sebagian dan tidak efektif. Tentu saja, kemampuan kita untuk mempertahankan perhatian akan lebih besar jika kita termotivasi. Sebuah skenario pengajaran yang sering terjadi adalah ketika instruktur terus bicara dan bicara. Hal ini menyebabkan perhatian kita cenderung menurun dengan cepat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Implikasinya bagi pengajaran sangat penting. Jelaslah bahwa instruktur yang berbicara panjang lebar, tanpa memberi kesempatan bagi pelajar untuk berpartisipasi, kemungkinan merupakan metode pengajaran yang tidak efektif. Kesalahan ini sering dilakukan oleh instruktur yang mengira bahwa semakin banyak input yang mereka berikan, akan semakin banyak pembelajaran yang terjadi. Ini jelas tidak betul. Pengalaman Anda sendiri sebagai pelajar sudah membuktikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hindari presentasi panjang. Selingi presentasi panjang dengan kegiatan singkat seperti meminta peserta untuk merangkum poin terpenting yang mereka dengar, atau bertanya apakah mereka bisa menebak hal yang akan dibahas selanjutnya, atau meminta mereka secara berpasangan untuk menyampaikan pertanyaan yang ingin didapat jawabannya dari presentasi selanjutnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Dorong penggunaan ingatan secara efektif===&lt;br /&gt;
'''Cara kerja ingatan'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan sistem ingatan kita sebagai sistem dengan dua komponen yang saling terkait: &lt;br /&gt;
1.	Sistem ingatan jangka pendek (STM), yang hanya bisa menangani kira-kira tujuh elemen informasi untuk satu waktu tertentu. &lt;br /&gt;
2.	Sistem ingatan jangka panjang (LTM), yang memiliki kapasitas hampir tak terbatas untuk menyimpan informasi. Sistem inilah yang menyimpan semua informasi yang bisa kita ingat kembali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Transfer informasi secara efektif dari STM ke LTM sangat penting untuk akuisisi pengetahuan. Guna mencapai transfer ini, informasi haruslah masuk akal bagi pembelajar (bermakna); dalam potongan yang sesuai (sekitar tujuh elemen); terorganisasi; dan cukup sering dilatih (diulangi beberapa kali sampai dapat diingat dengan mudah). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Bagaimana &amp;quot;lupa&amp;quot; terjadi'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah teori tentang terjadinya lupa. Yang paling penting bagi kita sebagai instruktur adalah bahwa lebih dari 60% informasi faktual akan hilang dalam waktu 48 jam jika hal yang dipelajari itu tidak diulangi atau dipelajari kembali. Keterampilan dan pemahaman jauh lebih sulit dilupakan. Misalnya, begitu sudah belajar berenang, Anda kemungkinan akan sulit lupa cara berenang, meskipun tidak berenang lagi hingga bertahun-tahun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semakin banyak informasi yang dipelajari kembali sehari setelah 'diperoleh', semakin besar peluang informasi tersebut untuk tersimpan dalam ingatan jangka panjang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Implikasi untuk pengajaran dan pembelajaran'''&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Sebaiknya ingatkan pelajar tentang prinsip-prinsip dasar cara kerja ingatan. Ini akan menghindarkan mereka dari kesalahan yang biasa terjadi, yaitu berusaha menghafal terlalu banyak dalam waktu yang terlalu singkat. Dari sudut panjang pengajaran, kita harus menyadari bahwa jika kita berbicara terlalu lama, informasi yang akhirnya akan masuk ingatan kemungkinan hanya sedikit. Jadi, kita perlu menjaga agar informasi terorganisasi dengan baik dan memberi waktu bagi pelajar untuk mencerna materi, baik melalui sesi tanya jawab atau kegiatan tindak lanjut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kiat membantu orang mengingat materi'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Pertahankan perhatian para peserta, terutama saat Anda menyampaikan poin penting&lt;br /&gt;
*Siapkan orang sebelum Anda memberikan informasi dengan mengajukan pertanyaan yang memancing pemikiran, sehingga mereka sudah siaga menerima materi bersangkutan sebelum mendengarkan materi yang spesifik&lt;br /&gt;
*Ajukan pertanyaan selama pelatihan yang mendorong peserta untuk mengingat kembali materi, merangkumnya, dan memperlihatkan materi dengan berbagai cara.  Berikan kuis singkat.&lt;br /&gt;
*Gunakan studi kasus untuk membantu peserta menerapkan informasi dengan cara yang berbeda-beda&lt;br /&gt;
*Gunakan pengulangan dan penguatan dengan meminta orang untuk misalnya, menyampaikan kembali, mendiskusikan, atau membuat grafik.&lt;br /&gt;
*Tanyakan poin apa yang paling penting (satu poin per peserta)&lt;br /&gt;
*Perpanjang diskusi agar peserta dapat menyadari sendiri poin pentingnya, alih-alih diberi tahu.&lt;br /&gt;
*Perlihatkan kesamaan atau kaitan dengan aspek atau topik lain yang relevan.&lt;br /&gt;
*Gunakan berbagai cara untuk memperlihatkan atau menarik informasi&lt;br /&gt;
*Variasikan materi dan alat pengajaran&lt;br /&gt;
*Pastikan orang merasa rileks dan mendapatkan jeda yang cukup&lt;br /&gt;
*Rangkumkan poin utama pada bagian akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Mengakomodasi gaya belajar yang berbeda-beda===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai individu, kita punya cara khas masing-masing dalam memproses informasi, merasakan dan berperilaku dalam situasi belajar. Intinya, ini berarti walaupun kita semua belajar dengan cara memperoleh pengetahuan, berpikir, dan bertindak, kita punya pendekatan dan preferensi yang berbeda-beda mengenai cara kita melakukan kegiatan tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One area of research has shown that there can be significant differences in the ways in which people approach a learning task. For example, some people will try to get an overall picture or understanding of the task before they focus on more specific details and linkages. In contrast, other people will approach the task in a more sequential manner, making linkages gradually and methodically, and only building up to an understanding of the overall task much later in the learning process. The most effective learners seem to be able to adopt both of these styles simultaneously and in a versatile manner. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Some people clearly have preferences in terms of the way they best learn: &lt;br /&gt;
*visual - seeing pictures, words, diagrams &lt;br /&gt;
*auditory - listening to explanations &lt;br /&gt;
*tactile - actually doing the activity &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are important implications in different learning styles for the ways in which we teach. These differences clearly suggest the need for learning to involve the range of senses and provide many different ways in which learners can go about their learning. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Of course, it is not possible for instructors to cater for all preferences all the time. However, it serves as a reminder to use a range of instruction methods and provide a variety of learning sources for students whenever possible. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pastikan masukan yang efektif===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pelatih harus berulang kali memberikan masukan kepada para peserta selama pelatihan. Masukan seperti itu dapat memberi keyakinan dan membimbing para peserta. Di bagian berikutnya dalam pedoman kita akan membicarakan lebih banyak mengenai cara-cara memberikan masukan yang berguna dan juga cara-cara untuk mendapatkan umpan balik atas pelatihan yang Anda berikan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Techniques_that_maximise_learning/35/id&amp;diff=18227</id>
		<title>Translations:Techniques that maximise learning/35/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Techniques_that_maximise_learning/35/id&amp;diff=18227"/>
		<updated>2014-09-23T09:17:26Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Seorang pelatih harus berulang kali memberikan masukan kepada para peserta selama pelatihan. Masukan seperti itu dapat memberi keyakinan dan membimbing para peserta. Di bagian...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Seorang pelatih harus berulang kali memberikan masukan kepada para peserta selama pelatihan. Masukan seperti itu dapat memberi keyakinan dan membimbing para peserta. Di bagian berikutnya dalam pedoman kita akan membicarakan lebih banyak mengenai cara-cara memberikan masukan yang berguna dan juga cara-cara untuk mendapatkan umpan balik atas pelatihan yang Anda berikan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Techniques_that_maximise_learning/34/id&amp;diff=18225</id>
		<title>Translations:Techniques that maximise learning/34/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Techniques_that_maximise_learning/34/id&amp;diff=18225"/>
		<updated>2014-09-23T09:12:42Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;===Pastikan masukan yang efektif===&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Techniques_that_maximise_learning/id&amp;diff=18226</id>
		<title>Techniques that maximise learning/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Techniques_that_maximise_learning/id&amp;diff=18226"/>
		<updated>2014-09-23T09:12:42Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==11.	Teknik memaksimalkan pembelajaran==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Pembelajaran melibatkan segenap pikiran dan raga (beserta jiwa) &lt;br /&gt;
*Pembelajaran adalah kreasi, bukan konsumsi &lt;br /&gt;
*Kolaborasi membantu pembelajaran &lt;br /&gt;
*Pembelajaran terjadi secara bersamaan pada berbagai tataran &lt;br /&gt;
*Pembelajarn muncul dari melakukan pekerjaan itu sendiri (dengan disertai umpan balik) &lt;br /&gt;
*Emosi positif sangat meningkatkan pembelajaran &lt;br /&gt;
*Otak jauh lebih mudah dan cepat menyerap informasi visual. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Beri motivasi===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Motivasi sangatlah penting, terutama pada saat awal pelatihan. Orang dewasa perlu mengetahui bagaimana pelatihan tersebut akan bermanfaat bagi mereka. Jika mereka tidak mengetahuinya, mereka tidak akan belajar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guna memotivasi peserta, fasilitator perlu mengambil setiap kesempatan untuk: &lt;br /&gt;
*Menjalin kedekatan &lt;br /&gt;
*Menciptakan suasana pelatihan yang terbuka dan bersahabat &lt;br /&gt;
*Menjaga agar tingkat stres tetap rendah &lt;br /&gt;
*Memberi tantangan bagi para peserta, tetapi tidak sampai membuat mereka frustrasi&lt;br /&gt;
*Memastikan bahwa peserta dapat menghubungkan materi dengan pekerjaan dan kehidupan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajar dapat belajar secara efektif dan mandiri jika mereka tertarik pada hal yang sedang mereka pelajari. Namun, kebanyakan pelajaran di ruang kelas sering dianggap tidak menarik, dan ini menjadikan proses pembelajaran lebih sulit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tantangan berat bagi pelatih adalah menjadikan pembelajaran lebih menarik, bermakna, dan aktif. Sesungguhnya, inilah tujuan utama pelatihan ''Train the Trainer'' dan merupakan salah satu aspek sulit dalam perancangan pelatihan yang baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Perkokoh===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepanjang pelatihan, instruktur perlu mendorong dan memperkokoh. Instruktur harus memberi ganjaran bagi perilaku baik – sekecil apa pun itu – secara positif dan sering. Ganjaran tersebut tidak harus berbentuk fisik. Cukup ucapkan “bagus” atau “terima kasih untuk masukannya” sudah sangat berarti bagi pembelajar dewasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Ulangi===&lt;br /&gt;
Pengulangan merupakan salah satu dasar pembelajaran. Orang-orang perlu mendengarkan suatu hal hingga tiga kali sebelum mempelajarinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya mengapa proses untuk mengajarkan suatu keterampilan adalah dengan: &lt;br /&gt;
1.	membangkitkan minat (Persiapan) &lt;br /&gt;
2.	menjelaskan atau memperlihatkannya (Presentasi) &lt;br /&gt;
3.	meminta pembelajar melakukannya (Latihan) &lt;br /&gt;
4.	meminta pembelajar melakukannya dalam keadaan nyata (Kinerja) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Gunakan semua indra===&lt;br /&gt;
Semakin banyak kombinasi indra kita yang terstimulasi dalam pembelajaran, semakin besar peluang keberhasilan pembelajaran. Sebagai contoh, diperkirakan bahwa kita mempelajari: &lt;br /&gt;
*10% dari hal yang kita baca &lt;br /&gt;
*20% dari hal yang kita dengar &lt;br /&gt;
*30% dari hal yang kita lihat &lt;br /&gt;
*40% dari hal yang kita lihat dan dengar &lt;br /&gt;
*50% dari hal yang kita diskusikan &lt;br /&gt;
*70% dari hal yang kita alami &lt;br /&gt;
*90% dari hal yang kita ajarkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pahami kurva pembelajaran===&lt;br /&gt;
Pembelajaran adalah proses yang berlangsung terus-menerus, tetapi kecepatannya bisa berbeda-beda. Sebagai contoh, ketika Anda baru mulai mempelajari hal baru, kemajuannya sering kali sangat lambat untuk beberapa lama, kemudian Anda tiba-tiba merasa mempelajari banyak dalam waktu yang jauh lebih cepat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, kecepatan pembelajaran ini sering akan menurun lagi dan Anda merasa hanya mengalami sedikit kemajuan, meskipun berusaha sama keras seperti sebelumnya. Pada saat ini, Anda sedang mengkonsolidasikan hal-hal yang telah dipelajari, tetapi periode ini sering kali sangat membuat frustrasi. Umumnya diperlukan upaya terus-menerus untuk menciptakan lonjakan pembelajaran yang baru. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bantulah pelajar untuk memahami bahwa lonjakan dan penurunan kecepatan pembelajaran merupakan hal biasa dan jika tetap tekun, mereka akan kembali merasakan kemajuan. Ini akan membantu mereka mempertahankan keyakinan dan motivasi saat mengalami penurunan kecepatan pembelajaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan salah gunakan rentang perhatian===&lt;br /&gt;
Perhatian berperan sangat penting dalam pembelajaran. Tanpa perhatian yang baik, pembelajaran kemungkinan hanya terjadi sebagian dan tidak efektif. Tentu saja, kemampuan kita untuk mempertahankan perhatian akan lebih besar jika kita termotivasi. Sebuah skenario pengajaran yang sering terjadi adalah ketika instruktur terus bicara dan bicara. Hal ini menyebabkan perhatian kita cenderung menurun dengan cepat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Implikasinya bagi pengajaran sangat penting. Jelaslah bahwa instruktur yang berbicara panjang lebar, tanpa memberi kesempatan bagi pelajar untuk berpartisipasi, kemungkinan merupakan metode pengajaran yang tidak efektif. Kesalahan ini sering dilakukan oleh instruktur yang mengira bahwa semakin banyak input yang mereka berikan, akan semakin banyak pembelajaran yang terjadi. Ini jelas tidak betul. Pengalaman Anda sendiri sebagai pelajar sudah membuktikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hindari presentasi panjang. Selingi presentasi panjang dengan kegiatan singkat seperti meminta peserta untuk merangkum poin terpenting yang mereka dengar, atau bertanya apakah mereka bisa menebak hal yang akan dibahas selanjutnya, atau meminta mereka secara berpasangan untuk menyampaikan pertanyaan yang ingin didapat jawabannya dari presentasi selanjutnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Dorong penggunaan ingatan secara efektif===&lt;br /&gt;
'''Cara kerja ingatan'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan sistem ingatan kita sebagai sistem dengan dua komponen yang saling terkait: &lt;br /&gt;
1.	Sistem ingatan jangka pendek (STM), yang hanya bisa menangani kira-kira tujuh elemen informasi untuk satu waktu tertentu. &lt;br /&gt;
2.	Sistem ingatan jangka panjang (LTM), yang memiliki kapasitas hampir tak terbatas untuk menyimpan informasi. Sistem inilah yang menyimpan semua informasi yang bisa kita ingat kembali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Transfer informasi secara efektif dari STM ke LTM sangat penting untuk akuisisi pengetahuan. Guna mencapai transfer ini, informasi haruslah masuk akal bagi pembelajar (bermakna); dalam potongan yang sesuai (sekitar tujuh elemen); terorganisasi; dan cukup sering dilatih (diulangi beberapa kali sampai dapat diingat dengan mudah). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Bagaimana &amp;quot;lupa&amp;quot; terjadi'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah teori tentang terjadinya lupa. Yang paling penting bagi kita sebagai instruktur adalah bahwa lebih dari 60% informasi faktual akan hilang dalam waktu 48 jam jika hal yang dipelajari itu tidak diulangi atau dipelajari kembali. Keterampilan dan pemahaman jauh lebih sulit dilupakan. Misalnya, begitu sudah belajar berenang, Anda kemungkinan akan sulit lupa cara berenang, meskipun tidak berenang lagi hingga bertahun-tahun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semakin banyak informasi yang dipelajari kembali sehari setelah 'diperoleh', semakin besar peluang informasi tersebut untuk tersimpan dalam ingatan jangka panjang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Implikasi untuk pengajaran dan pembelajaran'''&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Sebaiknya ingatkan pelajar tentang prinsip-prinsip dasar cara kerja ingatan. Ini akan menghindarkan mereka dari kesalahan yang biasa terjadi, yaitu berusaha menghafal terlalu banyak dalam waktu yang terlalu singkat. Dari sudut panjang pengajaran, kita harus menyadari bahwa jika kita berbicara terlalu lama, informasi yang akhirnya akan masuk ingatan kemungkinan hanya sedikit. Jadi, kita perlu menjaga agar informasi terorganisasi dengan baik dan memberi waktu bagi pelajar untuk mencerna materi, baik melalui sesi tanya jawab atau kegiatan tindak lanjut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kiat membantu orang mengingat materi'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Pertahankan perhatian para peserta, terutama saat Anda menyampaikan poin penting&lt;br /&gt;
*Siapkan orang sebelum Anda memberikan informasi dengan mengajukan pertanyaan yang memancing pemikiran, sehingga mereka sudah siaga menerima materi bersangkutan sebelum mendengarkan materi yang spesifik&lt;br /&gt;
*Ajukan pertanyaan selama pelatihan yang mendorong peserta untuk mengingat kembali materi, merangkumnya, dan memperlihatkan materi dengan berbagai cara.  Berikan kuis singkat.&lt;br /&gt;
*Gunakan studi kasus untuk membantu peserta menerapkan informasi dengan cara yang berbeda-beda&lt;br /&gt;
*Gunakan pengulangan dan penguatan dengan meminta orang untuk misalnya, menyampaikan kembali, mendiskusikan, atau membuat grafik.&lt;br /&gt;
*Tanyakan poin apa yang paling penting (satu poin per peserta)&lt;br /&gt;
*Perpanjang diskusi agar peserta dapat menyadari sendiri poin pentingnya, alih-alih diberi tahu.&lt;br /&gt;
*Perlihatkan kesamaan atau kaitan dengan aspek atau topik lain yang relevan.&lt;br /&gt;
*Gunakan berbagai cara untuk memperlihatkan atau menarik informasi&lt;br /&gt;
*Variasikan materi dan alat pengajaran&lt;br /&gt;
*Pastikan orang merasa rileks dan mendapatkan jeda yang cukup&lt;br /&gt;
*Rangkumkan poin utama pada bagian akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Mengakomodasi gaya belajar yang berbeda-beda===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai individu, kita punya cara khas masing-masing dalam memproses informasi, merasakan dan berperilaku dalam situasi belajar. Intinya, ini berarti walaupun kita semua belajar dengan cara memperoleh pengetahuan, berpikir, dan bertindak, kita punya pendekatan dan preferensi yang berbeda-beda mengenai cara kita melakukan kegiatan tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One area of research has shown that there can be significant differences in the ways in which people approach a learning task. For example, some people will try to get an overall picture or understanding of the task before they focus on more specific details and linkages. In contrast, other people will approach the task in a more sequential manner, making linkages gradually and methodically, and only building up to an understanding of the overall task much later in the learning process. The most effective learners seem to be able to adopt both of these styles simultaneously and in a versatile manner. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Some people clearly have preferences in terms of the way they best learn: &lt;br /&gt;
*visual - seeing pictures, words, diagrams &lt;br /&gt;
*auditory - listening to explanations &lt;br /&gt;
*tactile - actually doing the activity &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are important implications in different learning styles for the ways in which we teach. These differences clearly suggest the need for learning to involve the range of senses and provide many different ways in which learners can go about their learning. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Of course, it is not possible for instructors to cater for all preferences all the time. However, it serves as a reminder to use a range of instruction methods and provide a variety of learning sources for students whenever possible. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pastikan masukan yang efektif===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A trainer should give feedback to participants frequently throughout the course. It is reassuring and helps offer guidance. Later in this guide we will talk more about ways to give useful feedback and even ways to get feedback for your own training.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Techniques_that_maximise_learning/34/id&amp;diff=18223</id>
		<title>Translations:Techniques that maximise learning/34/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Techniques_that_maximise_learning/34/id&amp;diff=18223"/>
		<updated>2014-09-23T09:12:13Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;===Pastikan umpan balik yang efektif===&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;===Pastikan umpan balik yang efektif===&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Techniques_that_maximise_learning/id&amp;diff=18224</id>
		<title>Techniques that maximise learning/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Techniques_that_maximise_learning/id&amp;diff=18224"/>
		<updated>2014-09-23T09:12:13Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;===Pastikan umpan balik yang efektif===&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==11.	Teknik memaksimalkan pembelajaran==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Pembelajaran melibatkan segenap pikiran dan raga (beserta jiwa) &lt;br /&gt;
*Pembelajaran adalah kreasi, bukan konsumsi &lt;br /&gt;
*Kolaborasi membantu pembelajaran &lt;br /&gt;
*Pembelajaran terjadi secara bersamaan pada berbagai tataran &lt;br /&gt;
*Pembelajarn muncul dari melakukan pekerjaan itu sendiri (dengan disertai umpan balik) &lt;br /&gt;
*Emosi positif sangat meningkatkan pembelajaran &lt;br /&gt;
*Otak jauh lebih mudah dan cepat menyerap informasi visual. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Beri motivasi===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Motivasi sangatlah penting, terutama pada saat awal pelatihan. Orang dewasa perlu mengetahui bagaimana pelatihan tersebut akan bermanfaat bagi mereka. Jika mereka tidak mengetahuinya, mereka tidak akan belajar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guna memotivasi peserta, fasilitator perlu mengambil setiap kesempatan untuk: &lt;br /&gt;
*Menjalin kedekatan &lt;br /&gt;
*Menciptakan suasana pelatihan yang terbuka dan bersahabat &lt;br /&gt;
*Menjaga agar tingkat stres tetap rendah &lt;br /&gt;
*Memberi tantangan bagi para peserta, tetapi tidak sampai membuat mereka frustrasi&lt;br /&gt;
*Memastikan bahwa peserta dapat menghubungkan materi dengan pekerjaan dan kehidupan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajar dapat belajar secara efektif dan mandiri jika mereka tertarik pada hal yang sedang mereka pelajari. Namun, kebanyakan pelajaran di ruang kelas sering dianggap tidak menarik, dan ini menjadikan proses pembelajaran lebih sulit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tantangan berat bagi pelatih adalah menjadikan pembelajaran lebih menarik, bermakna, dan aktif. Sesungguhnya, inilah tujuan utama pelatihan ''Train the Trainer'' dan merupakan salah satu aspek sulit dalam perancangan pelatihan yang baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Perkokoh===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepanjang pelatihan, instruktur perlu mendorong dan memperkokoh. Instruktur harus memberi ganjaran bagi perilaku baik – sekecil apa pun itu – secara positif dan sering. Ganjaran tersebut tidak harus berbentuk fisik. Cukup ucapkan “bagus” atau “terima kasih untuk masukannya” sudah sangat berarti bagi pembelajar dewasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Ulangi===&lt;br /&gt;
Pengulangan merupakan salah satu dasar pembelajaran. Orang-orang perlu mendengarkan suatu hal hingga tiga kali sebelum mempelajarinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya mengapa proses untuk mengajarkan suatu keterampilan adalah dengan: &lt;br /&gt;
1.	membangkitkan minat (Persiapan) &lt;br /&gt;
2.	menjelaskan atau memperlihatkannya (Presentasi) &lt;br /&gt;
3.	meminta pembelajar melakukannya (Latihan) &lt;br /&gt;
4.	meminta pembelajar melakukannya dalam keadaan nyata (Kinerja) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Gunakan semua indra===&lt;br /&gt;
Semakin banyak kombinasi indra kita yang terstimulasi dalam pembelajaran, semakin besar peluang keberhasilan pembelajaran. Sebagai contoh, diperkirakan bahwa kita mempelajari: &lt;br /&gt;
*10% dari hal yang kita baca &lt;br /&gt;
*20% dari hal yang kita dengar &lt;br /&gt;
*30% dari hal yang kita lihat &lt;br /&gt;
*40% dari hal yang kita lihat dan dengar &lt;br /&gt;
*50% dari hal yang kita diskusikan &lt;br /&gt;
*70% dari hal yang kita alami &lt;br /&gt;
*90% dari hal yang kita ajarkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pahami kurva pembelajaran===&lt;br /&gt;
Pembelajaran adalah proses yang berlangsung terus-menerus, tetapi kecepatannya bisa berbeda-beda. Sebagai contoh, ketika Anda baru mulai mempelajari hal baru, kemajuannya sering kali sangat lambat untuk beberapa lama, kemudian Anda tiba-tiba merasa mempelajari banyak dalam waktu yang jauh lebih cepat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, kecepatan pembelajaran ini sering akan menurun lagi dan Anda merasa hanya mengalami sedikit kemajuan, meskipun berusaha sama keras seperti sebelumnya. Pada saat ini, Anda sedang mengkonsolidasikan hal-hal yang telah dipelajari, tetapi periode ini sering kali sangat membuat frustrasi. Umumnya diperlukan upaya terus-menerus untuk menciptakan lonjakan pembelajaran yang baru. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bantulah pelajar untuk memahami bahwa lonjakan dan penurunan kecepatan pembelajaran merupakan hal biasa dan jika tetap tekun, mereka akan kembali merasakan kemajuan. Ini akan membantu mereka mempertahankan keyakinan dan motivasi saat mengalami penurunan kecepatan pembelajaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jangan salah gunakan rentang perhatian===&lt;br /&gt;
Perhatian berperan sangat penting dalam pembelajaran. Tanpa perhatian yang baik, pembelajaran kemungkinan hanya terjadi sebagian dan tidak efektif. Tentu saja, kemampuan kita untuk mempertahankan perhatian akan lebih besar jika kita termotivasi. Sebuah skenario pengajaran yang sering terjadi adalah ketika instruktur terus bicara dan bicara. Hal ini menyebabkan perhatian kita cenderung menurun dengan cepat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Implikasinya bagi pengajaran sangat penting. Jelaslah bahwa instruktur yang berbicara panjang lebar, tanpa memberi kesempatan bagi pelajar untuk berpartisipasi, kemungkinan merupakan metode pengajaran yang tidak efektif. Kesalahan ini sering dilakukan oleh instruktur yang mengira bahwa semakin banyak input yang mereka berikan, akan semakin banyak pembelajaran yang terjadi. Ini jelas tidak betul. Pengalaman Anda sendiri sebagai pelajar sudah membuktikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hindari presentasi panjang. Selingi presentasi panjang dengan kegiatan singkat seperti meminta peserta untuk merangkum poin terpenting yang mereka dengar, atau bertanya apakah mereka bisa menebak hal yang akan dibahas selanjutnya, atau meminta mereka secara berpasangan untuk menyampaikan pertanyaan yang ingin didapat jawabannya dari presentasi selanjutnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Dorong penggunaan ingatan secara efektif===&lt;br /&gt;
'''Cara kerja ingatan'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan sistem ingatan kita sebagai sistem dengan dua komponen yang saling terkait: &lt;br /&gt;
1.	Sistem ingatan jangka pendek (STM), yang hanya bisa menangani kira-kira tujuh elemen informasi untuk satu waktu tertentu. &lt;br /&gt;
2.	Sistem ingatan jangka panjang (LTM), yang memiliki kapasitas hampir tak terbatas untuk menyimpan informasi. Sistem inilah yang menyimpan semua informasi yang bisa kita ingat kembali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Transfer informasi secara efektif dari STM ke LTM sangat penting untuk akuisisi pengetahuan. Guna mencapai transfer ini, informasi haruslah masuk akal bagi pembelajar (bermakna); dalam potongan yang sesuai (sekitar tujuh elemen); terorganisasi; dan cukup sering dilatih (diulangi beberapa kali sampai dapat diingat dengan mudah). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Bagaimana &amp;quot;lupa&amp;quot; terjadi'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah teori tentang terjadinya lupa. Yang paling penting bagi kita sebagai instruktur adalah bahwa lebih dari 60% informasi faktual akan hilang dalam waktu 48 jam jika hal yang dipelajari itu tidak diulangi atau dipelajari kembali. Keterampilan dan pemahaman jauh lebih sulit dilupakan. Misalnya, begitu sudah belajar berenang, Anda kemungkinan akan sulit lupa cara berenang, meskipun tidak berenang lagi hingga bertahun-tahun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semakin banyak informasi yang dipelajari kembali sehari setelah 'diperoleh', semakin besar peluang informasi tersebut untuk tersimpan dalam ingatan jangka panjang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Implikasi untuk pengajaran dan pembelajaran'''&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Sebaiknya ingatkan pelajar tentang prinsip-prinsip dasar cara kerja ingatan. Ini akan menghindarkan mereka dari kesalahan yang biasa terjadi, yaitu berusaha menghafal terlalu banyak dalam waktu yang terlalu singkat. Dari sudut panjang pengajaran, kita harus menyadari bahwa jika kita berbicara terlalu lama, informasi yang akhirnya akan masuk ingatan kemungkinan hanya sedikit. Jadi, kita perlu menjaga agar informasi terorganisasi dengan baik dan memberi waktu bagi pelajar untuk mencerna materi, baik melalui sesi tanya jawab atau kegiatan tindak lanjut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kiat membantu orang mengingat materi'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Pertahankan perhatian para peserta, terutama saat Anda menyampaikan poin penting&lt;br /&gt;
*Siapkan orang sebelum Anda memberikan informasi dengan mengajukan pertanyaan yang memancing pemikiran, sehingga mereka sudah siaga menerima materi bersangkutan sebelum mendengarkan materi yang spesifik&lt;br /&gt;
*Ajukan pertanyaan selama pelatihan yang mendorong peserta untuk mengingat kembali materi, merangkumnya, dan memperlihatkan materi dengan berbagai cara.  Berikan kuis singkat.&lt;br /&gt;
*Gunakan studi kasus untuk membantu peserta menerapkan informasi dengan cara yang berbeda-beda&lt;br /&gt;
*Gunakan pengulangan dan penguatan dengan meminta orang untuk misalnya, menyampaikan kembali, mendiskusikan, atau membuat grafik.&lt;br /&gt;
*Tanyakan poin apa yang paling penting (satu poin per peserta)&lt;br /&gt;
*Perpanjang diskusi agar peserta dapat menyadari sendiri poin pentingnya, alih-alih diberi tahu.&lt;br /&gt;
*Perlihatkan kesamaan atau kaitan dengan aspek atau topik lain yang relevan.&lt;br /&gt;
*Gunakan berbagai cara untuk memperlihatkan atau menarik informasi&lt;br /&gt;
*Variasikan materi dan alat pengajaran&lt;br /&gt;
*Pastikan orang merasa rileks dan mendapatkan jeda yang cukup&lt;br /&gt;
*Rangkumkan poin utama pada bagian akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Mengakomodasi gaya belajar yang berbeda-beda===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai individu, kita punya cara khas masing-masing dalam memproses informasi, merasakan dan berperilaku dalam situasi belajar. Intinya, ini berarti walaupun kita semua belajar dengan cara memperoleh pengetahuan, berpikir, dan bertindak, kita punya pendekatan dan preferensi yang berbeda-beda mengenai cara kita melakukan kegiatan tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One area of research has shown that there can be significant differences in the ways in which people approach a learning task. For example, some people will try to get an overall picture or understanding of the task before they focus on more specific details and linkages. In contrast, other people will approach the task in a more sequential manner, making linkages gradually and methodically, and only building up to an understanding of the overall task much later in the learning process. The most effective learners seem to be able to adopt both of these styles simultaneously and in a versatile manner. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Some people clearly have preferences in terms of the way they best learn: &lt;br /&gt;
*visual - seeing pictures, words, diagrams &lt;br /&gt;
*auditory - listening to explanations &lt;br /&gt;
*tactile - actually doing the activity &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are important implications in different learning styles for the ways in which we teach. These differences clearly suggest the need for learning to involve the range of senses and provide many different ways in which learners can go about their learning. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Of course, it is not possible for instructors to cater for all preferences all the time. However, it serves as a reminder to use a range of instruction methods and provide a variety of learning sources for students whenever possible. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pastikan umpan balik yang efektif===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A trainer should give feedback to participants frequently throughout the course. It is reassuring and helps offer guidance. Later in this guide we will talk more about ways to give useful feedback and even ways to get feedback for your own training.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17472</id>
		<title>Manuals:Abattoir Reporters/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17472"/>
		<updated>2014-09-18T14:18:57Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Jadi, daftar kode untuk RPH di Bogor akan terlihat sebagai berikut&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pelaporan RPH==&lt;br /&gt;
===Ringkasan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP.&lt;br /&gt;
*Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong.&lt;br /&gt;
**Urutan ini dapat diulangi jika laporan mencakup beberapa jenis hewan.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode RPH diperlukan jika pelapor melakukan pekerjaannya di lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Catatan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap RPH punya pelapor pemotongan.  Sejumlah pelapor bertanggung jawab atas lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
Pada akhir setiap hari, orang tersebut harus mengirim laporan RPH melalui SMS ke iSIKHNAS untuk memberitahukan berapa banyak hewan dari setiap Jenis Hewan yang dipotong di masing-masing RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa jenis hewan dapat dimasukkan dalam satu pesan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kode RPH opsional harus dimasukkan pada akhir laporan jika pelapor bertanggung jawab atas beberapa RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan Pemeriksa Daging - Belum beroperasi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:prp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan pemeriksaan daging selalu diawali dengan kode PRP.&lt;br /&gt;
*Gunakan kode Tanda dari daftar kode Tanda yang dipisahkan dengan koma.&lt;br /&gt;
*Gunakan kode Spesies dari daftar kode Spesies.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan dari spesies ini yang terdampak.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode lokasi jika melaporkan dari lokasi yang berbeda dengan lokasi tempat Anda terdaftar.&lt;br /&gt;
*Opsional: Jika mungkin, lakukan Diagnosis diferensial dari daftar kode Penyakit.  Pisahkan dengan koma jika ada beberapa diagnosis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kode-kode sistem==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode RPH===&lt;br /&gt;
Ada lebih dari 600 RPH yang terdaftar di Indonesia.  Masing-masing RPH diberikan kode unik yang menandakan lokasinya.  &lt;br /&gt;
Kode unik ini termasuk kode lokasi provinsi dan kabupaten.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya: &lt;br /&gt;
 Jawa Barat kodenya 32&lt;br /&gt;
 Kabupaten Bogor kodenya 01&lt;br /&gt;
 Jadi, setiap RPH di Bogor akan diawali dengan kode 3201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada lima RPH di Bogor dan masing-masing memiliki kode yang berbeda – 01, 02, 03, 04, 05&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, daftar kode untuk RPH di Bogor akan terlihat sebagai berikut&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| &lt;br /&gt;
!Long code		!!Short code     !!Abattoir name&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320101|| 1	||SUKAMAJU, RPH&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320102|| 2	||CIBINONG, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320103|| 3 ||ALDERS INDONESIA&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320104|| 4 ||CITARINGGUL, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320105|| 5 ||GALUGA, RPH&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Staf yang melaporkan dari beberapa RPH terdaftar pada satu kabupaten sehingga tidak perlu menggunakan kode RPH secara lengkap dalam setiap pesannya.&lt;br /&gt;
Mereka dapat menggunakan kode pendek - angka terakhir untuk memberitahukan sistem RPH mana yang sedang mereka laporkan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini dimungkinkan karena, jika Anda ingat, sistem mengetahui detail tentang lokasi tempat kerja setiap pengguna dan daerah tanggung jawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode Jenis Hewan untuk laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[1]&lt;br /&gt;
from animal_types&lt;br /&gt;
where slaughter&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Animal Type}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode spesies===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[2]&lt;br /&gt;
from species&lt;br /&gt;
where not del and level = 3 and not lab&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Species}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/17/id&amp;diff=17471</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/17/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/17/id&amp;diff=17471"/>
		<updated>2014-09-18T14:18:56Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Jadi, daftar kode untuk RPH di Bogor akan terlihat sebagai berikut&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Jadi, daftar kode untuk RPH di Bogor akan terlihat sebagai berikut&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/16/id&amp;diff=17469</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/16/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/16/id&amp;diff=17469"/>
		<updated>2014-09-18T14:18:36Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Ada lima RPH di Bogor dan masing-masing memiliki kode yang berbeda – 01, 02, 03, 04, 05&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Ada lima RPH di Bogor dan masing-masing memiliki kode yang berbeda – 01, 02, 03, 04, 05&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17470</id>
		<title>Manuals:Abattoir Reporters/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17470"/>
		<updated>2014-09-18T14:18:36Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Ada lima RPH di Bogor dan masing-masing memiliki kode yang berbeda – 01, 02, 03, 04, 05&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pelaporan RPH==&lt;br /&gt;
===Ringkasan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP.&lt;br /&gt;
*Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong.&lt;br /&gt;
**Urutan ini dapat diulangi jika laporan mencakup beberapa jenis hewan.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode RPH diperlukan jika pelapor melakukan pekerjaannya di lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Catatan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap RPH punya pelapor pemotongan.  Sejumlah pelapor bertanggung jawab atas lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
Pada akhir setiap hari, orang tersebut harus mengirim laporan RPH melalui SMS ke iSIKHNAS untuk memberitahukan berapa banyak hewan dari setiap Jenis Hewan yang dipotong di masing-masing RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa jenis hewan dapat dimasukkan dalam satu pesan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kode RPH opsional harus dimasukkan pada akhir laporan jika pelapor bertanggung jawab atas beberapa RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan Pemeriksa Daging - Belum beroperasi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:prp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan pemeriksaan daging selalu diawali dengan kode PRP.&lt;br /&gt;
*Gunakan kode Tanda dari daftar kode Tanda yang dipisahkan dengan koma.&lt;br /&gt;
*Gunakan kode Spesies dari daftar kode Spesies.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan dari spesies ini yang terdampak.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode lokasi jika melaporkan dari lokasi yang berbeda dengan lokasi tempat Anda terdaftar.&lt;br /&gt;
*Opsional: Jika mungkin, lakukan Diagnosis diferensial dari daftar kode Penyakit.  Pisahkan dengan koma jika ada beberapa diagnosis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kode-kode sistem==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode RPH===&lt;br /&gt;
Ada lebih dari 600 RPH yang terdaftar di Indonesia.  Masing-masing RPH diberikan kode unik yang menandakan lokasinya.  &lt;br /&gt;
Kode unik ini termasuk kode lokasi provinsi dan kabupaten.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya: &lt;br /&gt;
 Jawa Barat kodenya 32&lt;br /&gt;
 Kabupaten Bogor kodenya 01&lt;br /&gt;
 Jadi, setiap RPH di Bogor akan diawali dengan kode 3201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada lima RPH di Bogor dan masing-masing memiliki kode yang berbeda – 01, 02, 03, 04, 05&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, the code list for Bogor abattoirs looks like this&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| &lt;br /&gt;
!Long code		!!Short code     !!Abattoir name&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320101|| 1	||SUKAMAJU, RPH&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320102|| 2	||CIBINONG, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320103|| 3 ||ALDERS INDONESIA&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320104|| 4 ||CITARINGGUL, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320105|| 5 ||GALUGA, RPH&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Staf yang melaporkan dari beberapa RPH terdaftar pada satu kabupaten sehingga tidak perlu menggunakan kode RPH secara lengkap dalam setiap pesannya.&lt;br /&gt;
Mereka dapat menggunakan kode pendek - angka terakhir untuk memberitahukan sistem RPH mana yang sedang mereka laporkan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini dimungkinkan karena, jika Anda ingat, sistem mengetahui detail tentang lokasi tempat kerja setiap pengguna dan daerah tanggung jawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode Jenis Hewan untuk laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[1]&lt;br /&gt;
from animal_types&lt;br /&gt;
where slaughter&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Animal Type}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode spesies===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[2]&lt;br /&gt;
from species&lt;br /&gt;
where not del and level = 3 and not lab&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Species}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/15/id&amp;diff=17467</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/15/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/15/id&amp;diff=17467"/>
		<updated>2014-09-18T14:18:10Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Misalnya:   Jawa Barat kodenya 32  Kabupaten Bogor kodenya 01  Jadi, setiap RPH di Bogor akan diawali dengan kode 3201.&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Misalnya: &lt;br /&gt;
 Jawa Barat kodenya 32&lt;br /&gt;
 Kabupaten Bogor kodenya 01&lt;br /&gt;
 Jadi, setiap RPH di Bogor akan diawali dengan kode 3201.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17468</id>
		<title>Manuals:Abattoir Reporters/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17468"/>
		<updated>2014-09-18T14:18:10Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Misalnya:   Jawa Barat kodenya 32  Kabupaten Bogor kodenya 01  Jadi, setiap RPH di Bogor akan diawali dengan kode 3201.&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pelaporan RPH==&lt;br /&gt;
===Ringkasan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP.&lt;br /&gt;
*Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong.&lt;br /&gt;
**Urutan ini dapat diulangi jika laporan mencakup beberapa jenis hewan.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode RPH diperlukan jika pelapor melakukan pekerjaannya di lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Catatan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap RPH punya pelapor pemotongan.  Sejumlah pelapor bertanggung jawab atas lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
Pada akhir setiap hari, orang tersebut harus mengirim laporan RPH melalui SMS ke iSIKHNAS untuk memberitahukan berapa banyak hewan dari setiap Jenis Hewan yang dipotong di masing-masing RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa jenis hewan dapat dimasukkan dalam satu pesan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kode RPH opsional harus dimasukkan pada akhir laporan jika pelapor bertanggung jawab atas beberapa RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan Pemeriksa Daging - Belum beroperasi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:prp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan pemeriksaan daging selalu diawali dengan kode PRP.&lt;br /&gt;
*Gunakan kode Tanda dari daftar kode Tanda yang dipisahkan dengan koma.&lt;br /&gt;
*Gunakan kode Spesies dari daftar kode Spesies.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan dari spesies ini yang terdampak.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode lokasi jika melaporkan dari lokasi yang berbeda dengan lokasi tempat Anda terdaftar.&lt;br /&gt;
*Opsional: Jika mungkin, lakukan Diagnosis diferensial dari daftar kode Penyakit.  Pisahkan dengan koma jika ada beberapa diagnosis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kode-kode sistem==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode RPH===&lt;br /&gt;
Ada lebih dari 600 RPH yang terdaftar di Indonesia.  Masing-masing RPH diberikan kode unik yang menandakan lokasinya.  &lt;br /&gt;
Kode unik ini termasuk kode lokasi provinsi dan kabupaten.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya: &lt;br /&gt;
 Jawa Barat kodenya 32&lt;br /&gt;
 Kabupaten Bogor kodenya 01&lt;br /&gt;
 Jadi, setiap RPH di Bogor akan diawali dengan kode 3201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are five abattoirs in Bogor and each one has a different code – 01, 02, 03, 04, 05&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, the code list for Bogor abattoirs looks like this&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| &lt;br /&gt;
!Long code		!!Short code     !!Abattoir name&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320101|| 1	||SUKAMAJU, RPH&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320102|| 2	||CIBINONG, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320103|| 3 ||ALDERS INDONESIA&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320104|| 4 ||CITARINGGUL, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320105|| 5 ||GALUGA, RPH&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Staf yang melaporkan dari beberapa RPH terdaftar pada satu kabupaten sehingga tidak perlu menggunakan kode RPH secara lengkap dalam setiap pesannya.&lt;br /&gt;
Mereka dapat menggunakan kode pendek - angka terakhir untuk memberitahukan sistem RPH mana yang sedang mereka laporkan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini dimungkinkan karena, jika Anda ingat, sistem mengetahui detail tentang lokasi tempat kerja setiap pengguna dan daerah tanggung jawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode Jenis Hewan untuk laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[1]&lt;br /&gt;
from animal_types&lt;br /&gt;
where slaughter&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Animal Type}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode spesies===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[2]&lt;br /&gt;
from species&lt;br /&gt;
where not del and level = 3 and not lab&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Species}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17466</id>
		<title>Manuals:Abattoir Reporters/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17466"/>
		<updated>2014-09-18T14:17:20Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;===Kode RPH=== Ada lebih dari 600 RPH yang terdaftar di Indonesia.  Masing-masing RPH diberikan kode unik yang menandakan lokasinya.   Kode unik ini termasuk kode lokasi provi...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pelaporan RPH==&lt;br /&gt;
===Ringkasan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP.&lt;br /&gt;
*Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong.&lt;br /&gt;
**Urutan ini dapat diulangi jika laporan mencakup beberapa jenis hewan.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode RPH diperlukan jika pelapor melakukan pekerjaannya di lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Catatan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap RPH punya pelapor pemotongan.  Sejumlah pelapor bertanggung jawab atas lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
Pada akhir setiap hari, orang tersebut harus mengirim laporan RPH melalui SMS ke iSIKHNAS untuk memberitahukan berapa banyak hewan dari setiap Jenis Hewan yang dipotong di masing-masing RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa jenis hewan dapat dimasukkan dalam satu pesan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kode RPH opsional harus dimasukkan pada akhir laporan jika pelapor bertanggung jawab atas beberapa RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan Pemeriksa Daging - Belum beroperasi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:prp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan pemeriksaan daging selalu diawali dengan kode PRP.&lt;br /&gt;
*Gunakan kode Tanda dari daftar kode Tanda yang dipisahkan dengan koma.&lt;br /&gt;
*Gunakan kode Spesies dari daftar kode Spesies.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan dari spesies ini yang terdampak.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode lokasi jika melaporkan dari lokasi yang berbeda dengan lokasi tempat Anda terdaftar.&lt;br /&gt;
*Opsional: Jika mungkin, lakukan Diagnosis diferensial dari daftar kode Penyakit.  Pisahkan dengan koma jika ada beberapa diagnosis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kode-kode sistem==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode RPH===&lt;br /&gt;
Ada lebih dari 600 RPH yang terdaftar di Indonesia.  Masing-masing RPH diberikan kode unik yang menandakan lokasinya.  &lt;br /&gt;
Kode unik ini termasuk kode lokasi provinsi dan kabupaten.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Example: &lt;br /&gt;
 Jawa Barat has a code of 32&lt;br /&gt;
 Kabupaten Bogor has a code of 01&lt;br /&gt;
 So, every abattoir in Bogor will start with the code 3201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are five abattoirs in Bogor and each one has a different code – 01, 02, 03, 04, 05&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, the code list for Bogor abattoirs looks like this&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| &lt;br /&gt;
!Long code		!!Short code     !!Abattoir name&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320101|| 1	||SUKAMAJU, RPH&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320102|| 2	||CIBINONG, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320103|| 3 ||ALDERS INDONESIA&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320104|| 4 ||CITARINGGUL, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320105|| 5 ||GALUGA, RPH&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Staf yang melaporkan dari beberapa RPH terdaftar pada satu kabupaten sehingga tidak perlu menggunakan kode RPH secara lengkap dalam setiap pesannya.&lt;br /&gt;
Mereka dapat menggunakan kode pendek - angka terakhir untuk memberitahukan sistem RPH mana yang sedang mereka laporkan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini dimungkinkan karena, jika Anda ingat, sistem mengetahui detail tentang lokasi tempat kerja setiap pengguna dan daerah tanggung jawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode Jenis Hewan untuk laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[1]&lt;br /&gt;
from animal_types&lt;br /&gt;
where slaughter&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Animal Type}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode spesies===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[2]&lt;br /&gt;
from species&lt;br /&gt;
where not del and level = 3 and not lab&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Species}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/14/id&amp;diff=17465</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/14/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/14/id&amp;diff=17465"/>
		<updated>2014-09-18T14:17:19Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;===Kode RPH=== Ada lebih dari 600 RPH yang terdaftar di Indonesia.  Masing-masing RPH diberikan kode unik yang menandakan lokasinya.   Kode unik ini termasuk kode lokasi provi...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;===Kode RPH===&lt;br /&gt;
Ada lebih dari 600 RPH yang terdaftar di Indonesia.  Masing-masing RPH diberikan kode unik yang menandakan lokasinya.  &lt;br /&gt;
Kode unik ini termasuk kode lokasi provinsi dan kabupaten.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17464</id>
		<title>Manuals:Abattoir Reporters/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17464"/>
		<updated>2014-09-18T14:15:58Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Ini dimungkinkan karena, jika Anda ingat, sistem mengetahui detail tentang lokasi tempat kerja setiap pengguna dan daerah tanggung jawabnya.&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pelaporan RPH==&lt;br /&gt;
===Ringkasan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP.&lt;br /&gt;
*Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong.&lt;br /&gt;
**Urutan ini dapat diulangi jika laporan mencakup beberapa jenis hewan.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode RPH diperlukan jika pelapor melakukan pekerjaannya di lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Catatan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap RPH punya pelapor pemotongan.  Sejumlah pelapor bertanggung jawab atas lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
Pada akhir setiap hari, orang tersebut harus mengirim laporan RPH melalui SMS ke iSIKHNAS untuk memberitahukan berapa banyak hewan dari setiap Jenis Hewan yang dipotong di masing-masing RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa jenis hewan dapat dimasukkan dalam satu pesan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kode RPH opsional harus dimasukkan pada akhir laporan jika pelapor bertanggung jawab atas beberapa RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan Pemeriksa Daging - Belum beroperasi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:prp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan pemeriksaan daging selalu diawali dengan kode PRP.&lt;br /&gt;
*Gunakan kode Tanda dari daftar kode Tanda yang dipisahkan dengan koma.&lt;br /&gt;
*Gunakan kode Spesies dari daftar kode Spesies.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan dari spesies ini yang terdampak.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode lokasi jika melaporkan dari lokasi yang berbeda dengan lokasi tempat Anda terdaftar.&lt;br /&gt;
*Opsional: Jika mungkin, lakukan Diagnosis diferensial dari daftar kode Penyakit.  Pisahkan dengan koma jika ada beberapa diagnosis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kode-kode sistem==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Abattoir codes===&lt;br /&gt;
There are well over 600 abattoirs registered in Indonesia.  Each abattoir has been given a unique code which tells you its location.  &lt;br /&gt;
This unique code includes the provincial and kabupaten location codes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Example: &lt;br /&gt;
 Jawa Barat has a code of 32&lt;br /&gt;
 Kabupaten Bogor has a code of 01&lt;br /&gt;
 So, every abattoir in Bogor will start with the code 3201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are five abattoirs in Bogor and each one has a different code – 01, 02, 03, 04, 05&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, the code list for Bogor abattoirs looks like this&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| &lt;br /&gt;
!Long code		!!Short code     !!Abattoir name&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320101|| 1	||SUKAMAJU, RPH&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320102|| 2	||CIBINONG, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320103|| 3 ||ALDERS INDONESIA&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320104|| 4 ||CITARINGGUL, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320105|| 5 ||GALUGA, RPH&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Staf yang melaporkan dari beberapa RPH terdaftar pada satu kabupaten sehingga tidak perlu menggunakan kode RPH secara lengkap dalam setiap pesannya.&lt;br /&gt;
Mereka dapat menggunakan kode pendek - angka terakhir untuk memberitahukan sistem RPH mana yang sedang mereka laporkan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini dimungkinkan karena, jika Anda ingat, sistem mengetahui detail tentang lokasi tempat kerja setiap pengguna dan daerah tanggung jawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode Jenis Hewan untuk laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[1]&lt;br /&gt;
from animal_types&lt;br /&gt;
where slaughter&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Animal Type}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode spesies===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[2]&lt;br /&gt;
from species&lt;br /&gt;
where not del and level = 3 and not lab&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Species}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/20/id&amp;diff=17463</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/20/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/20/id&amp;diff=17463"/>
		<updated>2014-09-18T14:15:57Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Ini dimungkinkan karena, jika Anda ingat, sistem mengetahui detail tentang lokasi tempat kerja setiap pengguna dan daerah tanggung jawabnya.&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Ini dimungkinkan karena, jika Anda ingat, sistem mengetahui detail tentang lokasi tempat kerja setiap pengguna dan daerah tanggung jawabnya.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17462</id>
		<title>Manuals:Abattoir Reporters/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17462"/>
		<updated>2014-09-18T14:15:18Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Staf yang melaporkan dari beberapa RPH terdaftar pada satu kabupaten sehingga tidak perlu menggunakan kode RPH secara lengkap dalam setiap pesannya. Mereka dapat menggunakan k...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pelaporan RPH==&lt;br /&gt;
===Ringkasan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP.&lt;br /&gt;
*Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong.&lt;br /&gt;
**Urutan ini dapat diulangi jika laporan mencakup beberapa jenis hewan.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode RPH diperlukan jika pelapor melakukan pekerjaannya di lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Catatan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap RPH punya pelapor pemotongan.  Sejumlah pelapor bertanggung jawab atas lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
Pada akhir setiap hari, orang tersebut harus mengirim laporan RPH melalui SMS ke iSIKHNAS untuk memberitahukan berapa banyak hewan dari setiap Jenis Hewan yang dipotong di masing-masing RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa jenis hewan dapat dimasukkan dalam satu pesan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kode RPH opsional harus dimasukkan pada akhir laporan jika pelapor bertanggung jawab atas beberapa RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan Pemeriksa Daging - Belum beroperasi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:prp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan pemeriksaan daging selalu diawali dengan kode PRP.&lt;br /&gt;
*Gunakan kode Tanda dari daftar kode Tanda yang dipisahkan dengan koma.&lt;br /&gt;
*Gunakan kode Spesies dari daftar kode Spesies.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan dari spesies ini yang terdampak.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode lokasi jika melaporkan dari lokasi yang berbeda dengan lokasi tempat Anda terdaftar.&lt;br /&gt;
*Opsional: Jika mungkin, lakukan Diagnosis diferensial dari daftar kode Penyakit.  Pisahkan dengan koma jika ada beberapa diagnosis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kode-kode sistem==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Abattoir codes===&lt;br /&gt;
There are well over 600 abattoirs registered in Indonesia.  Each abattoir has been given a unique code which tells you its location.  &lt;br /&gt;
This unique code includes the provincial and kabupaten location codes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Example: &lt;br /&gt;
 Jawa Barat has a code of 32&lt;br /&gt;
 Kabupaten Bogor has a code of 01&lt;br /&gt;
 So, every abattoir in Bogor will start with the code 3201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are five abattoirs in Bogor and each one has a different code – 01, 02, 03, 04, 05&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, the code list for Bogor abattoirs looks like this&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| &lt;br /&gt;
!Long code		!!Short code     !!Abattoir name&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320101|| 1	||SUKAMAJU, RPH&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320102|| 2	||CIBINONG, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320103|| 3 ||ALDERS INDONESIA&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320104|| 4 ||CITARINGGUL, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320105|| 5 ||GALUGA, RPH&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Staf yang melaporkan dari beberapa RPH terdaftar pada satu kabupaten sehingga tidak perlu menggunakan kode RPH secara lengkap dalam setiap pesannya.&lt;br /&gt;
Mereka dapat menggunakan kode pendek - angka terakhir untuk memberitahukan sistem RPH mana yang sedang mereka laporkan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is possible because, if you remember, the system knows details about each user's workplace location and their areas of responsibility.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode Jenis Hewan untuk laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[1]&lt;br /&gt;
from animal_types&lt;br /&gt;
where slaughter&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Animal Type}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode spesies===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[2]&lt;br /&gt;
from species&lt;br /&gt;
where not del and level = 3 and not lab&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Species}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/19/id&amp;diff=17461</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/19/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/19/id&amp;diff=17461"/>
		<updated>2014-09-18T14:15:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Staf yang melaporkan dari beberapa RPH terdaftar pada satu kabupaten sehingga tidak perlu menggunakan kode RPH secara lengkap dalam setiap pesannya. Mereka dapat menggunakan k...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Staf yang melaporkan dari beberapa RPH terdaftar pada satu kabupaten sehingga tidak perlu menggunakan kode RPH secara lengkap dalam setiap pesannya.&lt;br /&gt;
Mereka dapat menggunakan kode pendek - angka terakhir untuk memberitahukan sistem RPH mana yang sedang mereka laporkan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/12/id&amp;diff=17459</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/12/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/12/id&amp;diff=17459"/>
		<updated>2014-09-18T14:02:35Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;*Laporan pemeriksaan daging selalu diawali dengan kode PRP. *Gunakan kode Tanda dari daftar kode Tanda yang dipisahkan dengan koma. *Gunakan kode Spesies dari daftar kode Spes...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;*Laporan pemeriksaan daging selalu diawali dengan kode PRP.&lt;br /&gt;
*Gunakan kode Tanda dari daftar kode Tanda yang dipisahkan dengan koma.&lt;br /&gt;
*Gunakan kode Spesies dari daftar kode Spesies.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan dari spesies ini yang terdampak.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode lokasi jika melaporkan dari lokasi yang berbeda dengan lokasi tempat Anda terdaftar.&lt;br /&gt;
*Opsional: Jika mungkin, lakukan Diagnosis diferensial dari daftar kode Penyakit.  Pisahkan dengan koma jika ada beberapa diagnosis.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17460</id>
		<title>Manuals:Abattoir Reporters/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17460"/>
		<updated>2014-09-18T14:02:35Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;*Laporan pemeriksaan daging selalu diawali dengan kode PRP. *Gunakan kode Tanda dari daftar kode Tanda yang dipisahkan dengan koma. *Gunakan kode Spesies dari daftar kode Spes...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pelaporan RPH==&lt;br /&gt;
===Ringkasan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP.&lt;br /&gt;
*Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong.&lt;br /&gt;
**Urutan ini dapat diulangi jika laporan mencakup beberapa jenis hewan.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode RPH diperlukan jika pelapor melakukan pekerjaannya di lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Catatan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap RPH punya pelapor pemotongan.  Sejumlah pelapor bertanggung jawab atas lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
Pada akhir setiap hari, orang tersebut harus mengirim laporan RPH melalui SMS ke iSIKHNAS untuk memberitahukan berapa banyak hewan dari setiap Jenis Hewan yang dipotong di masing-masing RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa jenis hewan dapat dimasukkan dalam satu pesan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kode RPH opsional harus dimasukkan pada akhir laporan jika pelapor bertanggung jawab atas beberapa RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan Pemeriksa Daging - Belum beroperasi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:prp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan pemeriksaan daging selalu diawali dengan kode PRP.&lt;br /&gt;
*Gunakan kode Tanda dari daftar kode Tanda yang dipisahkan dengan koma.&lt;br /&gt;
*Gunakan kode Spesies dari daftar kode Spesies.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan dari spesies ini yang terdampak.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode lokasi jika melaporkan dari lokasi yang berbeda dengan lokasi tempat Anda terdaftar.&lt;br /&gt;
*Opsional: Jika mungkin, lakukan Diagnosis diferensial dari daftar kode Penyakit.  Pisahkan dengan koma jika ada beberapa diagnosis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kode-kode sistem==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Abattoir codes===&lt;br /&gt;
There are well over 600 abattoirs registered in Indonesia.  Each abattoir has been given a unique code which tells you its location.  &lt;br /&gt;
This unique code includes the provincial and kabupaten location codes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Example: &lt;br /&gt;
 Jawa Barat has a code of 32&lt;br /&gt;
 Kabupaten Bogor has a code of 01&lt;br /&gt;
 So, every abattoir in Bogor will start with the code 3201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are five abattoirs in Bogor and each one has a different code – 01, 02, 03, 04, 05&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, the code list for Bogor abattoirs looks like this&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| &lt;br /&gt;
!Long code		!!Short code     !!Abattoir name&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320101|| 1	||SUKAMAJU, RPH&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320102|| 2	||CIBINONG, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320103|| 3 ||ALDERS INDONESIA&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320104|| 4 ||CITARINGGUL, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320105|| 5 ||GALUGA, RPH&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Staff reporting from multiple abattoirs are registered to one kabupaten so they don’t need to use the full abattoir code in every message.&lt;br /&gt;
They can use the short code - the final digit to tell the system which abattoir they are reporting from.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is possible because, if you remember, the system knows details about each user's workplace location and their areas of responsibility.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode Jenis Hewan untuk laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[1]&lt;br /&gt;
from animal_types&lt;br /&gt;
where slaughter&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Animal Type}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode spesies===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[2]&lt;br /&gt;
from species&lt;br /&gt;
where not del and level = 3 and not lab&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Species}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17458</id>
		<title>Manuals:Abattoir Reporters/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17458"/>
		<updated>2014-09-18T13:56:05Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;===Laporan Pemeriksa Daging - Belum beroperasi ===&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pelaporan RPH==&lt;br /&gt;
===Ringkasan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP.&lt;br /&gt;
*Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong.&lt;br /&gt;
**Urutan ini dapat diulangi jika laporan mencakup beberapa jenis hewan.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode RPH diperlukan jika pelapor melakukan pekerjaannya di lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Catatan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap RPH punya pelapor pemotongan.  Sejumlah pelapor bertanggung jawab atas lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
Pada akhir setiap hari, orang tersebut harus mengirim laporan RPH melalui SMS ke iSIKHNAS untuk memberitahukan berapa banyak hewan dari setiap Jenis Hewan yang dipotong di masing-masing RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa jenis hewan dapat dimasukkan dalam satu pesan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kode RPH opsional harus dimasukkan pada akhir laporan jika pelapor bertanggung jawab atas beberapa RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan Pemeriksa Daging - Belum beroperasi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:prp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Meat inspection report always starts with PRP.&lt;br /&gt;
*Sign code/s from the Sign code list separated by a comma.&lt;br /&gt;
*Species code from the Species code list.&lt;br /&gt;
*Number of animals affected of this species.&lt;br /&gt;
*Optional: Location code if reporting from a different location to the one you are registered in.&lt;br /&gt;
*Optional: If possible, Differential diagnosis from the Disease code list.  Multiple diagnoses separated by a comma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kode-kode sistem==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Abattoir codes===&lt;br /&gt;
There are well over 600 abattoirs registered in Indonesia.  Each abattoir has been given a unique code which tells you its location.  &lt;br /&gt;
This unique code includes the provincial and kabupaten location codes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Example: &lt;br /&gt;
 Jawa Barat has a code of 32&lt;br /&gt;
 Kabupaten Bogor has a code of 01&lt;br /&gt;
 So, every abattoir in Bogor will start with the code 3201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are five abattoirs in Bogor and each one has a different code – 01, 02, 03, 04, 05&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, the code list for Bogor abattoirs looks like this&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| &lt;br /&gt;
!Long code		!!Short code     !!Abattoir name&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320101|| 1	||SUKAMAJU, RPH&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320102|| 2	||CIBINONG, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320103|| 3 ||ALDERS INDONESIA&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320104|| 4 ||CITARINGGUL, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320105|| 5 ||GALUGA, RPH&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Staff reporting from multiple abattoirs are registered to one kabupaten so they don’t need to use the full abattoir code in every message.&lt;br /&gt;
They can use the short code - the final digit to tell the system which abattoir they are reporting from.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is possible because, if you remember, the system knows details about each user's workplace location and their areas of responsibility.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode Jenis Hewan untuk laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[1]&lt;br /&gt;
from animal_types&lt;br /&gt;
where slaughter&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Animal Type}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode spesies===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[2]&lt;br /&gt;
from species&lt;br /&gt;
where not del and level = 3 and not lab&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Species}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/10/id&amp;diff=17457</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/10/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/10/id&amp;diff=17457"/>
		<updated>2014-09-18T13:56:04Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;===Laporan Pemeriksa Daging - Belum beroperasi ===&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;===Laporan Pemeriksa Daging - Belum beroperasi ===&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/9/id&amp;diff=17455</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/9/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/9/id&amp;diff=17455"/>
		<updated>2014-09-18T13:55:26Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Kode RPH opsional harus dimasukkan pada akhir laporan jika pelapor bertanggung jawab atas beberapa RPH.&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Kode RPH opsional harus dimasukkan pada akhir laporan jika pelapor bertanggung jawab atas beberapa RPH.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17456</id>
		<title>Manuals:Abattoir Reporters/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17456"/>
		<updated>2014-09-18T13:55:26Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Kode RPH opsional harus dimasukkan pada akhir laporan jika pelapor bertanggung jawab atas beberapa RPH.&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pelaporan RPH==&lt;br /&gt;
===Ringkasan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP.&lt;br /&gt;
*Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong.&lt;br /&gt;
**Urutan ini dapat diulangi jika laporan mencakup beberapa jenis hewan.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode RPH diperlukan jika pelapor melakukan pekerjaannya di lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Catatan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap RPH punya pelapor pemotongan.  Sejumlah pelapor bertanggung jawab atas lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
Pada akhir setiap hari, orang tersebut harus mengirim laporan RPH melalui SMS ke iSIKHNAS untuk memberitahukan berapa banyak hewan dari setiap Jenis Hewan yang dipotong di masing-masing RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa jenis hewan dapat dimasukkan dalam satu pesan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kode RPH opsional harus dimasukkan pada akhir laporan jika pelapor bertanggung jawab atas beberapa RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Meat Inspection report - Not yet in operation ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:prp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Meat inspection report always starts with PRP.&lt;br /&gt;
*Sign code/s from the Sign code list separated by a comma.&lt;br /&gt;
*Species code from the Species code list.&lt;br /&gt;
*Number of animals affected of this species.&lt;br /&gt;
*Optional: Location code if reporting from a different location to the one you are registered in.&lt;br /&gt;
*Optional: If possible, Differential diagnosis from the Disease code list.  Multiple diagnoses separated by a comma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kode-kode sistem==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Abattoir codes===&lt;br /&gt;
There are well over 600 abattoirs registered in Indonesia.  Each abattoir has been given a unique code which tells you its location.  &lt;br /&gt;
This unique code includes the provincial and kabupaten location codes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Example: &lt;br /&gt;
 Jawa Barat has a code of 32&lt;br /&gt;
 Kabupaten Bogor has a code of 01&lt;br /&gt;
 So, every abattoir in Bogor will start with the code 3201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are five abattoirs in Bogor and each one has a different code – 01, 02, 03, 04, 05&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, the code list for Bogor abattoirs looks like this&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| &lt;br /&gt;
!Long code		!!Short code     !!Abattoir name&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320101|| 1	||SUKAMAJU, RPH&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320102|| 2	||CIBINONG, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320103|| 3 ||ALDERS INDONESIA&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320104|| 4 ||CITARINGGUL, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320105|| 5 ||GALUGA, RPH&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Staff reporting from multiple abattoirs are registered to one kabupaten so they don’t need to use the full abattoir code in every message.&lt;br /&gt;
They can use the short code - the final digit to tell the system which abattoir they are reporting from.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is possible because, if you remember, the system knows details about each user's workplace location and their areas of responsibility.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode Jenis Hewan untuk laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[1]&lt;br /&gt;
from animal_types&lt;br /&gt;
where slaughter&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Animal Type}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode spesies===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[2]&lt;br /&gt;
from species&lt;br /&gt;
where not del and level = 3 and not lab&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Species}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/8/id&amp;diff=17453</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/8/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/8/id&amp;diff=17453"/>
		<updated>2014-09-18T13:54:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Beberapa jenis hewan dapat dimasukkan dalam satu pesan.&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Beberapa jenis hewan dapat dimasukkan dalam satu pesan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17454</id>
		<title>Manuals:Abattoir Reporters/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17454"/>
		<updated>2014-09-18T13:54:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Beberapa jenis hewan dapat dimasukkan dalam satu pesan.&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pelaporan RPH==&lt;br /&gt;
===Ringkasan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP.&lt;br /&gt;
*Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong.&lt;br /&gt;
**Urutan ini dapat diulangi jika laporan mencakup beberapa jenis hewan.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode RPH diperlukan jika pelapor melakukan pekerjaannya di lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Catatan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap RPH punya pelapor pemotongan.  Sejumlah pelapor bertanggung jawab atas lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
Pada akhir setiap hari, orang tersebut harus mengirim laporan RPH melalui SMS ke iSIKHNAS untuk memberitahukan berapa banyak hewan dari setiap Jenis Hewan yang dipotong di masing-masing RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa jenis hewan dapat dimasukkan dalam satu pesan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
An optional abattoir code should be included at the end of the report if the reporter is responsible for multiple abattoirs.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Meat Inspection report - Not yet in operation ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:prp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Meat inspection report always starts with PRP.&lt;br /&gt;
*Sign code/s from the Sign code list separated by a comma.&lt;br /&gt;
*Species code from the Species code list.&lt;br /&gt;
*Number of animals affected of this species.&lt;br /&gt;
*Optional: Location code if reporting from a different location to the one you are registered in.&lt;br /&gt;
*Optional: If possible, Differential diagnosis from the Disease code list.  Multiple diagnoses separated by a comma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kode-kode sistem==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Abattoir codes===&lt;br /&gt;
There are well over 600 abattoirs registered in Indonesia.  Each abattoir has been given a unique code which tells you its location.  &lt;br /&gt;
This unique code includes the provincial and kabupaten location codes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Example: &lt;br /&gt;
 Jawa Barat has a code of 32&lt;br /&gt;
 Kabupaten Bogor has a code of 01&lt;br /&gt;
 So, every abattoir in Bogor will start with the code 3201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are five abattoirs in Bogor and each one has a different code – 01, 02, 03, 04, 05&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, the code list for Bogor abattoirs looks like this&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| &lt;br /&gt;
!Long code		!!Short code     !!Abattoir name&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320101|| 1	||SUKAMAJU, RPH&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320102|| 2	||CIBINONG, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320103|| 3 ||ALDERS INDONESIA&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320104|| 4 ||CITARINGGUL, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320105|| 5 ||GALUGA, RPH&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Staff reporting from multiple abattoirs are registered to one kabupaten so they don’t need to use the full abattoir code in every message.&lt;br /&gt;
They can use the short code - the final digit to tell the system which abattoir they are reporting from.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is possible because, if you remember, the system knows details about each user's workplace location and their areas of responsibility.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode Jenis Hewan untuk laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[1]&lt;br /&gt;
from animal_types&lt;br /&gt;
where slaughter&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Animal Type}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode spesies===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[2]&lt;br /&gt;
from species&lt;br /&gt;
where not del and level = 3 and not lab&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Species}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17452</id>
		<title>Manuals:Abattoir Reporters/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=17452"/>
		<updated>2014-09-18T13:51:54Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Setiap RPH punya pelapor pemotongan.  Sejumlah pelapor bertanggung jawab atas lebih dari satu RPH. Pada akhir setiap hari, orang tersebut harus mengirim laporan RPH melalui SM...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pelaporan RPH==&lt;br /&gt;
===Ringkasan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP.&lt;br /&gt;
*Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong.&lt;br /&gt;
**Urutan ini dapat diulangi jika laporan mencakup beberapa jenis hewan.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode RPH diperlukan jika pelapor melakukan pekerjaannya di lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Catatan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap RPH punya pelapor pemotongan.  Sejumlah pelapor bertanggung jawab atas lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
Pada akhir setiap hari, orang tersebut harus mengirim laporan RPH melalui SMS ke iSIKHNAS untuk memberitahukan berapa banyak hewan dari setiap Jenis Hewan yang dipotong di masing-masing RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Multiple animal types can be included in the same message.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
An optional abattoir code should be included at the end of the report if the reporter is responsible for multiple abattoirs.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Meat Inspection report - Not yet in operation ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:prp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Meat inspection report always starts with PRP.&lt;br /&gt;
*Sign code/s from the Sign code list separated by a comma.&lt;br /&gt;
*Species code from the Species code list.&lt;br /&gt;
*Number of animals affected of this species.&lt;br /&gt;
*Optional: Location code if reporting from a different location to the one you are registered in.&lt;br /&gt;
*Optional: If possible, Differential diagnosis from the Disease code list.  Multiple diagnoses separated by a comma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kode-kode sistem==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Abattoir codes===&lt;br /&gt;
There are well over 600 abattoirs registered in Indonesia.  Each abattoir has been given a unique code which tells you its location.  &lt;br /&gt;
This unique code includes the provincial and kabupaten location codes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Example: &lt;br /&gt;
 Jawa Barat has a code of 32&lt;br /&gt;
 Kabupaten Bogor has a code of 01&lt;br /&gt;
 So, every abattoir in Bogor will start with the code 3201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are five abattoirs in Bogor and each one has a different code – 01, 02, 03, 04, 05&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, the code list for Bogor abattoirs looks like this&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| &lt;br /&gt;
!Long code		!!Short code     !!Abattoir name&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320101|| 1	||SUKAMAJU, RPH&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320102|| 2	||CIBINONG, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320103|| 3 ||ALDERS INDONESIA&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320104|| 4 ||CITARINGGUL, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320105|| 5 ||GALUGA, RPH&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Staff reporting from multiple abattoirs are registered to one kabupaten so they don’t need to use the full abattoir code in every message.&lt;br /&gt;
They can use the short code - the final digit to tell the system which abattoir they are reporting from.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is possible because, if you remember, the system knows details about each user's workplace location and their areas of responsibility.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode Jenis Hewan untuk laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[1]&lt;br /&gt;
from animal_types&lt;br /&gt;
where slaughter&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Animal Type}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode spesies===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[2]&lt;br /&gt;
from species&lt;br /&gt;
where not del and level = 3 and not lab&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Species}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/7/id&amp;diff=17451</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/7/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/7/id&amp;diff=17451"/>
		<updated>2014-09-18T13:51:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;Setiap RPH punya pelapor pemotongan.  Sejumlah pelapor bertanggung jawab atas lebih dari satu RPH. Pada akhir setiap hari, orang tersebut harus mengirim laporan RPH melalui SM...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Setiap RPH punya pelapor pemotongan.  Sejumlah pelapor bertanggung jawab atas lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
Pada akhir setiap hari, orang tersebut harus mengirim laporan RPH melalui SMS ke iSIKHNAS untuk memberitahukan berapa banyak hewan dari setiap Jenis Hewan yang dipotong di masing-masing RPH.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/11/id&amp;diff=16969</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/11/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/11/id&amp;diff=16969"/>
		<updated>2014-09-17T13:47:10Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;{{#apGetSMSFormat:prp|2}}&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{#apGetSMSFormat:prp|2}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/13/id&amp;diff=16966</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/13/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/13/id&amp;diff=16966"/>
		<updated>2014-09-17T13:46:59Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;==Kode-kode sistem==&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Kode-kode sistem==&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=16967</id>
		<title>Manuals:Abattoir Reporters/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=16967"/>
		<updated>2014-09-17T13:46:59Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;==Kode-kode sistem==&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pelaporan RPH==&lt;br /&gt;
===Ringkasan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP.&lt;br /&gt;
*Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong.&lt;br /&gt;
**Urutan ini dapat diulangi jika laporan mencakup beberapa jenis hewan.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode RPH diperlukan jika pelapor melakukan pekerjaannya di lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Catatan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Each abattoir has a slaughter reporter.  Some reporters are responsible for several abattoirs.&lt;br /&gt;
At the end of every day this person should send an SMS abattoir report to iSIKHNAS to say how many animals of each Animal Type were slaughtered at each abattoir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Multiple animal types can be included in the same message.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
An optional abattoir code should be included at the end of the report if the reporter is responsible for multiple abattoirs.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Meat Inspection report - Not yet in operation ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:prp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Meat inspection report always starts with PRP.&lt;br /&gt;
*Sign code/s from the Sign code list separated by a comma.&lt;br /&gt;
*Species code from the Species code list.&lt;br /&gt;
*Number of animals affected of this species.&lt;br /&gt;
*Optional: Location code if reporting from a different location to the one you are registered in.&lt;br /&gt;
*Optional: If possible, Differential diagnosis from the Disease code list.  Multiple diagnoses separated by a comma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kode-kode sistem==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Abattoir codes===&lt;br /&gt;
There are well over 600 abattoirs registered in Indonesia.  Each abattoir has been given a unique code which tells you its location.  &lt;br /&gt;
This unique code includes the provincial and kabupaten location codes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Example: &lt;br /&gt;
 Jawa Barat has a code of 32&lt;br /&gt;
 Kabupaten Bogor has a code of 01&lt;br /&gt;
 So, every abattoir in Bogor will start with the code 3201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are five abattoirs in Bogor and each one has a different code – 01, 02, 03, 04, 05&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, the code list for Bogor abattoirs looks like this&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| &lt;br /&gt;
!Long code		!!Short code     !!Abattoir name&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320101|| 1	||SUKAMAJU, RPH&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320102|| 2	||CIBINONG, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320103|| 3 ||ALDERS INDONESIA&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320104|| 4 ||CITARINGGUL, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320105|| 5 ||GALUGA, RPH&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Staff reporting from multiple abattoirs are registered to one kabupaten so they don’t need to use the full abattoir code in every message.&lt;br /&gt;
They can use the short code - the final digit to tell the system which abattoir they are reporting from.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is possible because, if you remember, the system knows details about each user's workplace location and their areas of responsibility.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode Jenis Hewan untuk laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[1]&lt;br /&gt;
from animal_types&lt;br /&gt;
where slaughter&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Animal Type}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode spesies===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[2]&lt;br /&gt;
from species&lt;br /&gt;
where not del and level = 3 and not lab&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Species}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/18/id&amp;diff=16965</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/18/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/18/id&amp;diff=16965"/>
		<updated>2014-09-17T13:46:46Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;{|  !Long code		!!Short code     !!Abattoir name |- |align=&amp;quot;center&amp;quot;|320101|| 1	||SUKAMAJU, RPH |- |align=&amp;quot;center&amp;quot;|320102|| 2	||CIBINONG, RPH |-           |align=&amp;quot;center&amp;quot;|32010...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{| &lt;br /&gt;
!Long code		!!Short code     !!Abattoir name&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320101|| 1	||SUKAMAJU, RPH&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320102|| 2	||CIBINONG, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320103|| 3 ||ALDERS INDONESIA&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320104|| 4 ||CITARINGGUL, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320105|| 5 ||GALUGA, RPH&lt;br /&gt;
|}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=16963</id>
		<title>Manuals:Abattoir Reporters/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=16963"/>
		<updated>2014-09-17T13:46:34Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;===Kode Jenis Hewan untuk laporan RPH===&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pelaporan RPH==&lt;br /&gt;
===Ringkasan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP.&lt;br /&gt;
*Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong.&lt;br /&gt;
**Urutan ini dapat diulangi jika laporan mencakup beberapa jenis hewan.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode RPH diperlukan jika pelapor melakukan pekerjaannya di lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Catatan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Each abattoir has a slaughter reporter.  Some reporters are responsible for several abattoirs.&lt;br /&gt;
At the end of every day this person should send an SMS abattoir report to iSIKHNAS to say how many animals of each Animal Type were slaughtered at each abattoir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Multiple animal types can be included in the same message.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
An optional abattoir code should be included at the end of the report if the reporter is responsible for multiple abattoirs.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Meat Inspection report - Not yet in operation ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:prp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Meat inspection report always starts with PRP.&lt;br /&gt;
*Sign code/s from the Sign code list separated by a comma.&lt;br /&gt;
*Species code from the Species code list.&lt;br /&gt;
*Number of animals affected of this species.&lt;br /&gt;
*Optional: Location code if reporting from a different location to the one you are registered in.&lt;br /&gt;
*Optional: If possible, Differential diagnosis from the Disease code list.  Multiple diagnoses separated by a comma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Code Lists==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Abattoir codes===&lt;br /&gt;
There are well over 600 abattoirs registered in Indonesia.  Each abattoir has been given a unique code which tells you its location.  &lt;br /&gt;
This unique code includes the provincial and kabupaten location codes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Example: &lt;br /&gt;
 Jawa Barat has a code of 32&lt;br /&gt;
 Kabupaten Bogor has a code of 01&lt;br /&gt;
 So, every abattoir in Bogor will start with the code 3201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are five abattoirs in Bogor and each one has a different code – 01, 02, 03, 04, 05&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, the code list for Bogor abattoirs looks like this&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| &lt;br /&gt;
!Long code		!!Short code     !!Abattoir name&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320101|| 1	||SUKAMAJU, RPH&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320102|| 2	||CIBINONG, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320103|| 3 ||ALDERS INDONESIA&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320104|| 4 ||CITARINGGUL, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320105|| 5 ||GALUGA, RPH&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Staff reporting from multiple abattoirs are registered to one kabupaten so they don’t need to use the full abattoir code in every message.&lt;br /&gt;
They can use the short code - the final digit to tell the system which abattoir they are reporting from.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is possible because, if you remember, the system knows details about each user's workplace location and their areas of responsibility.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode Jenis Hewan untuk laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[1]&lt;br /&gt;
from animal_types&lt;br /&gt;
where slaughter&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Animal Type}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode spesies===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[2]&lt;br /&gt;
from species&lt;br /&gt;
where not del and level = 3 and not lab&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Species}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/21/id&amp;diff=16962</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/21/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/21/id&amp;diff=16962"/>
		<updated>2014-09-17T13:46:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;===Kode Jenis Hewan untuk laporan RPH===&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;===Kode Jenis Hewan untuk laporan RPH===&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/22/id&amp;diff=16961</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/22/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/22/id&amp;diff=16961"/>
		<updated>2014-09-17T13:46:11Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;{{#apGetSQL:select code, name[1] from animal_types where slaughter order by hiercode|Code,Animal Type}}&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{#apGetSQL:select code, name[1]&lt;br /&gt;
from animal_types&lt;br /&gt;
where slaughter&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Animal Type}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/24/id&amp;diff=16960</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/24/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/24/id&amp;diff=16960"/>
		<updated>2014-09-17T13:46:07Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;{{#apGetSQL:select code, name[2] from species where not del and level = 3 and not lab order by hiercode|Code,Species}}&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{#apGetSQL:select code, name[2]&lt;br /&gt;
from species&lt;br /&gt;
where not del and level = 3 and not lab&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Species}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/23/id&amp;diff=16958</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/23/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/23/id&amp;diff=16958"/>
		<updated>2014-09-17T13:46:04Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;===Kode spesies===&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;===Kode spesies===&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=16959</id>
		<title>Manuals:Abattoir Reporters/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=16959"/>
		<updated>2014-09-17T13:46:04Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;===Kode spesies===&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pelaporan RPH==&lt;br /&gt;
===Ringkasan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP.&lt;br /&gt;
*Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong.&lt;br /&gt;
**Urutan ini dapat diulangi jika laporan mencakup beberapa jenis hewan.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode RPH diperlukan jika pelapor melakukan pekerjaannya di lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Catatan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Each abattoir has a slaughter reporter.  Some reporters are responsible for several abattoirs.&lt;br /&gt;
At the end of every day this person should send an SMS abattoir report to iSIKHNAS to say how many animals of each Animal Type were slaughtered at each abattoir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Multiple animal types can be included in the same message.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
An optional abattoir code should be included at the end of the report if the reporter is responsible for multiple abattoirs.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Meat Inspection report - Not yet in operation ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:prp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Meat inspection report always starts with PRP.&lt;br /&gt;
*Sign code/s from the Sign code list separated by a comma.&lt;br /&gt;
*Species code from the Species code list.&lt;br /&gt;
*Number of animals affected of this species.&lt;br /&gt;
*Optional: Location code if reporting from a different location to the one you are registered in.&lt;br /&gt;
*Optional: If possible, Differential diagnosis from the Disease code list.  Multiple diagnoses separated by a comma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Code Lists==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Abattoir codes===&lt;br /&gt;
There are well over 600 abattoirs registered in Indonesia.  Each abattoir has been given a unique code which tells you its location.  &lt;br /&gt;
This unique code includes the provincial and kabupaten location codes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Example: &lt;br /&gt;
 Jawa Barat has a code of 32&lt;br /&gt;
 Kabupaten Bogor has a code of 01&lt;br /&gt;
 So, every abattoir in Bogor will start with the code 3201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are five abattoirs in Bogor and each one has a different code – 01, 02, 03, 04, 05&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, the code list for Bogor abattoirs looks like this&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| &lt;br /&gt;
!Long code		!!Short code     !!Abattoir name&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320101|| 1	||SUKAMAJU, RPH&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320102|| 2	||CIBINONG, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320103|| 3 ||ALDERS INDONESIA&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320104|| 4 ||CITARINGGUL, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320105|| 5 ||GALUGA, RPH&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Staff reporting from multiple abattoirs are registered to one kabupaten so they don’t need to use the full abattoir code in every message.&lt;br /&gt;
They can use the short code - the final digit to tell the system which abattoir they are reporting from.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is possible because, if you remember, the system knows details about each user's workplace location and their areas of responsibility.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Animal Type codes for Abattoir reports===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[1]&lt;br /&gt;
from animal_types&lt;br /&gt;
where slaughter&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Animal Type}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kode spesies===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[2]&lt;br /&gt;
from species&lt;br /&gt;
where not del and level = 3 and not lab&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Species}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/6/id&amp;diff=16954</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/6/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/6/id&amp;diff=16954"/>
		<updated>2014-09-17T13:44:59Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;====Catatan====&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;====Catatan====&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=16955</id>
		<title>Manuals:Abattoir Reporters/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=16955"/>
		<updated>2014-09-17T13:44:59Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;====Catatan====&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pelaporan RPH==&lt;br /&gt;
===Ringkasan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP.&lt;br /&gt;
*Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong.&lt;br /&gt;
**Urutan ini dapat diulangi jika laporan mencakup beberapa jenis hewan.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode RPH diperlukan jika pelapor melakukan pekerjaannya di lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Catatan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Each abattoir has a slaughter reporter.  Some reporters are responsible for several abattoirs.&lt;br /&gt;
At the end of every day this person should send an SMS abattoir report to iSIKHNAS to say how many animals of each Animal Type were slaughtered at each abattoir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Multiple animal types can be included in the same message.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
An optional abattoir code should be included at the end of the report if the reporter is responsible for multiple abattoirs.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Meat Inspection report - Not yet in operation ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:prp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Meat inspection report always starts with PRP.&lt;br /&gt;
*Sign code/s from the Sign code list separated by a comma.&lt;br /&gt;
*Species code from the Species code list.&lt;br /&gt;
*Number of animals affected of this species.&lt;br /&gt;
*Optional: Location code if reporting from a different location to the one you are registered in.&lt;br /&gt;
*Optional: If possible, Differential diagnosis from the Disease code list.  Multiple diagnoses separated by a comma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Code Lists==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Abattoir codes===&lt;br /&gt;
There are well over 600 abattoirs registered in Indonesia.  Each abattoir has been given a unique code which tells you its location.  &lt;br /&gt;
This unique code includes the provincial and kabupaten location codes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Example: &lt;br /&gt;
 Jawa Barat has a code of 32&lt;br /&gt;
 Kabupaten Bogor has a code of 01&lt;br /&gt;
 So, every abattoir in Bogor will start with the code 3201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are five abattoirs in Bogor and each one has a different code – 01, 02, 03, 04, 05&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, the code list for Bogor abattoirs looks like this&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| &lt;br /&gt;
!Long code		!!Short code     !!Abattoir name&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320101|| 1	||SUKAMAJU, RPH&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320102|| 2	||CIBINONG, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320103|| 3 ||ALDERS INDONESIA&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320104|| 4 ||CITARINGGUL, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320105|| 5 ||GALUGA, RPH&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Staff reporting from multiple abattoirs are registered to one kabupaten so they don’t need to use the full abattoir code in every message.&lt;br /&gt;
They can use the short code - the final digit to tell the system which abattoir they are reporting from.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is possible because, if you remember, the system knows details about each user's workplace location and their areas of responsibility.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Animal Type codes for Abattoir reports===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[1]&lt;br /&gt;
from animal_types&lt;br /&gt;
where slaughter&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Animal Type}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Species codes===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[2]&lt;br /&gt;
from species&lt;br /&gt;
where not del and level = 3 and not lab&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Species}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=16953</id>
		<title>Manuals:Abattoir Reporters/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Manuals:Abattoir_Reporters/id&amp;diff=16953"/>
		<updated>2014-09-17T13:44:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP. *Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar. *Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong. **Urutan i...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;languages/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pelaporan RPH==&lt;br /&gt;
===Ringkasan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Laporan RPH===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:rp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP.&lt;br /&gt;
*Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong.&lt;br /&gt;
**Urutan ini dapat diulangi jika laporan mencakup beberapa jenis hewan.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode RPH diperlukan jika pelapor melakukan pekerjaannya di lebih dari satu RPH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Notes====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Each abattoir has a slaughter reporter.  Some reporters are responsible for several abattoirs.&lt;br /&gt;
At the end of every day this person should send an SMS abattoir report to iSIKHNAS to say how many animals of each Animal Type were slaughtered at each abattoir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Multiple animal types can be included in the same message.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
An optional abattoir code should be included at the end of the report if the reporter is responsible for multiple abattoirs.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Meat Inspection report - Not yet in operation ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSMSFormat:prp|2}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Meat inspection report always starts with PRP.&lt;br /&gt;
*Sign code/s from the Sign code list separated by a comma.&lt;br /&gt;
*Species code from the Species code list.&lt;br /&gt;
*Number of animals affected of this species.&lt;br /&gt;
*Optional: Location code if reporting from a different location to the one you are registered in.&lt;br /&gt;
*Optional: If possible, Differential diagnosis from the Disease code list.  Multiple diagnoses separated by a comma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Code Lists==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Abattoir codes===&lt;br /&gt;
There are well over 600 abattoirs registered in Indonesia.  Each abattoir has been given a unique code which tells you its location.  &lt;br /&gt;
This unique code includes the provincial and kabupaten location codes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Example: &lt;br /&gt;
 Jawa Barat has a code of 32&lt;br /&gt;
 Kabupaten Bogor has a code of 01&lt;br /&gt;
 So, every abattoir in Bogor will start with the code 3201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are five abattoirs in Bogor and each one has a different code – 01, 02, 03, 04, 05&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, the code list for Bogor abattoirs looks like this&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| &lt;br /&gt;
!Long code		!!Short code     !!Abattoir name&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320101|| 1	||SUKAMAJU, RPH&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320102|| 2	||CIBINONG, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320103|| 3 ||ALDERS INDONESIA&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320104|| 4 ||CITARINGGUL, RPH&lt;br /&gt;
|-          &lt;br /&gt;
|align=&amp;quot;center&amp;quot;|320105|| 5 ||GALUGA, RPH&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Staff reporting from multiple abattoirs are registered to one kabupaten so they don’t need to use the full abattoir code in every message.&lt;br /&gt;
They can use the short code - the final digit to tell the system which abattoir they are reporting from.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is possible because, if you remember, the system knows details about each user's workplace location and their areas of responsibility.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Animal Type codes for Abattoir reports===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[1]&lt;br /&gt;
from animal_types&lt;br /&gt;
where slaughter&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Animal Type}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Species codes===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{#apGetSQL:select code, name[2]&lt;br /&gt;
from species&lt;br /&gt;
where not del and level = 3 and not lab&lt;br /&gt;
order by hiercode|Code,Species}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/5/id&amp;diff=16952</id>
		<title>Translations:Manuals:Abattoir Reporters/5/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wiki.isikhnas.com/index.php?title=Translations:Manuals:Abattoir_Reporters/5/id&amp;diff=16952"/>
		<updated>2014-09-17T13:44:51Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Hendrayatna: Created page with &amp;quot;*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP. *Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar. *Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong. **Urutan i...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;*Laporan RPH selalu diawali dengan kode RP.&lt;br /&gt;
*Jenis Hewan berupa kode yang ada dalam daftar.&lt;br /&gt;
*Jumlah hewan adalah jumlah dari jenis hewan bersangkutan yang dipotong.&lt;br /&gt;
**Urutan ini dapat diulangi jika laporan mencakup beberapa jenis hewan.&lt;br /&gt;
*Opsional: Kode RPH diperlukan jika pelapor melakukan pekerjaannya di lebih dari satu RPH.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Hendrayatna</name></author>
		
	</entry>
</feed>